<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>You can&#039;t be busy...you&#039;re five!</title>
	<atom:link href="http://www.unposed.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.unposed.org</link>
	<description>Home Of Indonesian Street Photography</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Aug 2010 16:55:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>The Indecisive Moment</title>
		<link>http://www.unposed.org/?p=1530</link>
		<comments>http://www.unposed.org/?p=1530#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 13:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unposed.org</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unposed.org/blog/?p=1530</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Half the time the photographers seemed not to have [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Half the time the photographers seemed not to have even looked through the camera. Far from seeking the perfect composition, the ‘decisive moment’, their work seemed curiously unfinished. It captured ‘indecisive’ rather than decisive momen&#8221;</p>
<p>By Gerry Badger - <a href="http://www.americansuburbx.com/2009/02/theory-indecisive-moment-frank-klein.html">THEORY: &#8220;The Indecisive Moment: Frank, Klein, and &#8216;Stream-Of-Consciousness’ Photography&#8221; (2004)</a></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ok, sekarang pake ngeker lah sekali2. seeking perfect composition kalo katanya.</p>
<p>(sekali-kali) <img src='http://www.unposed.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
<br />
<img class="alignnone" title="Lee Friedlander, 1499-3: New Mexico, 2001 " src="http://www.andrewsmithgallery.com/exhibitions/leefriedlander/newmexico/friedlander_images/LF-1608.jpg" alt="" width="500" /><br />
<br />
<img class="alignnone" title="Christmas Shopping, Macy’s New York, 1954 " src="http://1.bp.blogspot.com/_hBqdPD_7M_Y/TCOafq5pzpI/AAAAAAAALeA/nOUEnrFWgTQ/s800/13_klein.jpg" alt="" width="500" height="395" /><br />
<br />
<img class="alignnone" title="William Christenberry - House and Car, Near Akron, Alabama, 1978, Fujicolor Crystal Archive " src="http://www.andrewsmithgallery.com/exhibitions/christenberry-oliphant/oldfriends_images/WCH-1042.jpg" alt="" width="500" /><br />
<br />
<img class="alignnone" title="Daido Moriyama - Computer Age" src="http://img843.imageshack.us/img843/2017/daidosuitspop585.jpg" alt="" width="500" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unposed.org/?feed=rss2&amp;p=1530</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>*INSPIRASI*</title>
		<link>http://www.unposed.org/?p=1274</link>
		<comments>http://www.unposed.org/?p=1274#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 11:26:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rivo Yubara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unposed.org/?p=1274</guid>
		<description><![CDATA[Mencari ide baru kadang sulit, tapi terkadang juga datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencari ide baru kadang sulit, tapi terkadang juga datang begitu saja saat melihat/merasakan hal disekitar kita.  Inspirasi juga datang dengan memahami apa yang sudah dilakukan oleh orang sebelum kita. Thread inspirasi akan menampilkan ide/foto-foto yang mungkin dapat menimbulkan hal baru untuk berkarya, mudah-mudahan bisa dibikin berkelanjutan.</p>
<p>Inspirasi kali ini tentang refleksi! refleksi dari cermin, air, kaca di gedung-gedung, dan bidang lainnya yang memantulkan cahaya.  Foto yang ada refleksinya unik, seperti punya cuplikan cerita di dalam sebuah kisah, atau fotonya seperti kehidupan yang punya kisah saling bertumpuk-tumpuk. Seperti ada bonus frame didalam frame, sangat unik atau bahkan surealis.</p>
<p>Ribet menjelaskannya, berikut adalah beberapa foto yang mungkin dapat memberi inspirasi :</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 623px"><img src="http://i560.photobucket.com/albums/ss50/fkusuma/Image0097-1.jpg" alt="©Febriyanne Kusuma" width="613" height="412" /><p class="wp-caption-text">©Febriyanne Kusuma</p></div>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 440px"><img src="http://i223.photobucket.com/albums/dd194/ifirdauzi/Cianjur/Cianjur%20Pasar/CianjurM6NoktonLuckyRoll129.jpg" alt="©Igor F Firdauzi" width="430" height="649" /><p class="wp-caption-text">©Igor F Firdauzi</p></div>
<p><img class=" alignnone" src="http://www.unposed.org/blog/wp-content/gallery/andri-irawan/me.jpg" alt="©andri irawan" /></p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 615px"><img src="http://i262.photobucket.com/albums/ii95/theauthorisdead/theanswer2.jpg" alt="©Karolus Naga" width="605" height="403" /><p class="wp-caption-text">©Karolus Naga</p></div>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 440px"><img src="http://i54.photobucket.com/albums/g108/danz_dayz/06-13.jpg" alt="©Dani subagia" width="430" height="649" /><p class="wp-caption-text">©Dani Subagja</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unposed.org/?feed=rss2&amp;p=1274</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>milis/group unposed</title>
		<link>http://www.unposed.org/?p=1272</link>
		<comments>http://www.unposed.org/?p=1272#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 18:28:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Krishna Bayumurti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Talk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unposed.org/?p=1272</guid>
		<description><![CDATA[kawan-kawan unposer semua-nya&#8230; td sore ketika arisan YM tercetus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kawan-kawan unposer semua-nya&#8230;</p>
<p>td sore ketika arisan YM tercetus untuk membuat sebuah milis atau group untuk unposed&#8230; karena klo kita diskusi sesuatu, seperti misalnya tentang acara launching/exhibition unposed, klo via arisan YM, kadang tidak ada notulensi-nya, jadi hasil diskusi kita tidak tercatat dengan baik, dan kadang kalau arisan YM gitu kan ga semuanya lagi OL di YM&#8230;</p>
<p>maka atas perintah bang rivo, saya telah membuatkan milisnya di googlegroups</p>
<p>alamatnya: http://groups.google.com/group/unposed</p>
<p>jadi silahkan kawan2 semua gabung disitudan kita ramaikan milis/group tersebut&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unposed.org/?feed=rss2&amp;p=1272</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Pakem Street Photography</title>
		<link>http://www.unposed.org/?p=1260</link>
		<comments>http://www.unposed.org/?p=1260#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 05:12:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lumunon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unposed.org/?p=1260</guid>
		<description><![CDATA[Apa istimewa-nya Street Photography? Pertanyaan ini kadang lewat dikepala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa istimewa-nya Street Photography? Pertanyaan ini kadang lewat dikepala saya saat melihat-lihat album foto jalanan; baik yang dibuat oleh para &#8220;master&#8221; maupun pemotret musiman.</p>
<p><strong>Fotografi Merakyat</strong><br />
Street Photography lebih merakyat ketimbang ranah fotografi lainnya. Anda tidak dituntut memiliki kamera mahal, membayar biaya perjalanan atau menyewa model. Kamera saku dan film murah bisa menemani Anda memotret. Pun Anda cukup keluar kamar dan langsung memotret. Pedestarian adalah &#8220;studio&#8221; Anda.</p>
<p><strong>Point of Interest</strong><br />
Apa yang harus saya potret? Ini sering menjadi masalah &#8211; Point of Interest. Jika boleh mengklasifikasi karya-karya master:<br />
Bresson menitik beratkan pada komposisi dan geometri. Erwitt dan Turpin membubuhi humor dan satir pada karyanya. Martin Parr memotret pendekatan psikologi-sosial.  Robert Frank mencatat kejadian mikro. Bruce Gilden memotret ekspresi manusia kota. Koudelka &#8220;melukis&#8221; surealis. Trent Parker bermain-main dengan cahaya&#8230; Pada akhirnya setiap individu memiliki ciri yang kuat. Untuk menikmati karya mereka, kadang kita harus mengenali pemikiran mereka &#8211; dengan kata lain karya-karya foto para master adalah cerminan jati diri. Itu POI-nya.</p>
<p><strong>Dedikasi dan Disiplin</strong><br />
Berhubungan dengan jati diri, Street Photography menuntut dedikasi dan disiplin yang tinggi. Tidak sedikit kita kenal pemotret jalanan yang berdedikasi terus memotret setiap hari: Daido Moriyama dan Winogrand adalah contoh ekstrim. Memotret seperti bagian dari ritual hidup seperti makan dan seks.</p>
<p><strong>Indah?</strong><br />
&#8230; tapi apakah Street Photography juga &#8220;indah&#8221;? Kita lupakan konsep indah yang ditawarkan majalah dan situs web komunitas (model pakaian minim, pemandangan HDR atau HI dengan kabut dan sinar buatan). Street Photography menyajikan keindahan jika pemotret-nya bilang itu &#8220;indah&#8221;. Seringkali, &#8220;indah&#8221; dalam SP artinya unik dan berkarakter. Untuk mendapatkan foto seperti ini, jelas pemotret sudah mengatasi masalah teknis maupun masalah kejiwaan.</p>
<p><strong>Eksperimen</strong><br />
Aha! Dengan kabur-nya konsep &#8220;indah&#8221; di ranah Street Photography, tak ayal pemotret dihadapkan pada kebutuhan: &#8220;bereksperimen&#8221;.  Terus terang, hal inilah yang justru menguras enerji (dan duit). Saya tahu, banyak pemotret SP yang gonta-ganti kamera/film, eksperimen saat developing dan gonta-ganti POI. Sanking asiknya, hasil foto jadi tidak penting &#8211; yang penting eksperimen.</p>
<p>Inilah catatan-catatan saya dalam usaha mencari pakem street photography. Mungkin benar, mungkin nge-lantur. Jadi, tulisan saya ini sangat terbuka untuk didebatkan (atau dianggap sampah).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unposed.org/?feed=rss2&amp;p=1260</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majalah Publication</title>
		<link>http://www.unposed.org/?p=1254</link>
		<comments>http://www.unposed.org/?p=1254#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 09:06:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rivo Yubara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Talk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unposed.org/?p=1254</guid>
		<description><![CDATA[Majalah Nick turpin sudah beredar, kali ada yg mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Majalah Nick turpin sudah beredar, kali ada yg mau order <a href="http://www.in-publication.com/order">http://www.in-publication.com/order</a><br />
atau submit foto berhadiah buku Winogrand  <a href="http://www.in-publication.com/submit">http://www.in-publication.com/submit</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unposed.org/?feed=rss2&amp;p=1254</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unposed Exhibition + Launching to public</title>
		<link>http://www.unposed.org/?p=1249</link>
		<comments>http://www.unposed.org/?p=1249#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 03:08:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ivan J</dc:creator>
				<category><![CDATA[Talk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unposed.org/?p=1249</guid>
		<description><![CDATA[Rencana besarnya tahun depan unposed akan launching dan go [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rencana besarnya tahun depan unposed akan launching dan go to public.</p>
<p>konsep sementara adalah <strong>pameran dan diskusi ,pengenalan web, pengenalan street fotografi, jumpa pers dan lain lain.</strong></p>
<p>target adalah masyarakat dan fotografer seluruh negeri ..mungkin ada yang mau beri masukan, tempat , acara dan sebagainya , sekalian rilis baju unposed kali ya..dimohon masukannya disini kawan kawan, dan <strong>mendaftar</strong> relawan untuk sama sama membangun acara ini .</p>
<p>insyaalah kita bisa membangkitkan dokumenter/street fotografi indonesia dan menyebarkan tujuan mulia dari street fotografi</p>
<p>&#8220;kapal besar ini telah berlayar , tapi perlu kita nahkodai dengan pelaut pelaut handal&#8221;</p>
<p>maju terus anpos!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unposed.org/?feed=rss2&amp;p=1249</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Interview Dengan Arif Setiawan</title>
		<link>http://www.unposed.org/?p=1223</link>
		<comments>http://www.unposed.org/?p=1223#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 07:33:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kurniadi Widodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Interview]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unposed.org/?p=1223</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini, saya mulai melihat ada kecenderungan peningkatan animo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini, saya mulai melihat ada kecenderungan peningkatan animo terhadap street photography di Indonesia. Mulai dari semakin banyaknya yang mengunggah foto-foto street di berbagai situs komunitas fotografi, sampai mulai maraknya juga event maupun kompetisi street photography di berbagai kota di Indonesia. Perkembangan yang cukup menggembirakan. Dari sekian pendatang baru di genre ini, ada sedikit yang mulai menarik perhatian saya karena karya-karyanya yang menunjukkan kepekaan visual yang lebih tajam dibanding sesamanya yang mulai memotret pada periode yang kurang lebih sama. Salah satu dari mereka adalah Arif Setiawan, yang saat ini tinggal dan bekerja di Papua. Berikut obrolan saya dengan Arif.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>Wid:</strong> Oke Rif, kita mulai dari yang basic dulu&#8230; Sebelum ini kita sudah sempat sekali bertemu di Jogja dan ngobrol-ngobrol, dan baru pada saat itu aku tahu bahwa kamu pegawai negeri sipil. Tapi sepertinya aku belum tahu tentang bagaimana kamu bisa kenal dunia fotografi. Bisa ceritakan sedikit tentang itu?</p>
<p><em><strong>Arif Setiawan (AS):</strong> Pada awalnya aku dipinjami kamera prosumer oleh temanku, olehnya aku disuruh belajar biar bisa membantu dia memotret pernikahannya. Itu Maret 2008 kalau nggak salah, terus aku  mulai mencari-cari pelajaran tentang fotografi, dan nyasar di <a href="http://www.fotografer.net">FN</a>&#8230; Di sana tertarik oleh fotografi landscape, ketemulah dengan Lambok Sinaga, dari dia aku mulai tahu tentang foto-fotomu, <a href="http://erikestrada.at">Erik</a>, <a href="http://theauthorisdead.blogspot.com">Karolus Naga</a>, <a href="http://diptyawahyantara.wordpress.com">Diwa</a>, <a href="http://maulistya.blogspot.com">Aul</a> dsb&#8230; <a href="http://boljugeyesight.multiply.com">Mas boljug</a>, <a href="http://wandererjourney.blogspot.com">om Igor</a>.. Dari situ aku mulai tertarik ke snapshot secara umum, dan lalu aku mulai bertanya-tanya ke orang-orang tersebut. Terus aku lihat thread tentang urban surrealism di FN juga, disitu banyak nama fotografer street disebutkan, kucari satu persatu, lalu ketemu Magnum dan banyak rekomendasi situs dari kamu juga.</em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Lalu, apa yang membuat kamu tertarik dengan foto-foto snapshot yang kamu sebutkan tadi?</p>
<p><em><strong>AS:</strong> Iya, pertamanya nggak tahu juga ya, cuma sensasi melihatnya berbeda dengan foto-foto lain. &#8220;Kok bisa orang kepikiran foto seperti ini&#8230;&#8221;, pikirku dulu. Terus aku merasa waktu itu kesempatan mengeksplorasinya luas banget dengan variasi isi foto yang juga sangat luas menurutku dibanding jenis foto lainya.</em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Kemudian ketika kamu mencobanya sendiri, apa kamu punya semacam guideline tertentu untuk memotret foto-foto snapshot itu? maksudku, ketika kamu melihat foto-foto yang kamu suka itu, walaupun awalnya kamu sekedar merasakan &#8216;sensasi yang berbeda&#8217;, apakah lalu kamu mulai menyadari hal-hal yang mendefinisi bagaimana foto-foto itu terlihat menarik, dan lalu mencoba mengaplikasikannya ke prose memotretmu sendiri?</p>
<p><em><strong>AS: </strong>Iya, dari beberapa foto-foto snapshot karya orang lain yang kusuka, aku menangkapnya seolah-olah ada interaksi antar 2 elemen di satu foto, ketika ini kucoba untuk aplikasikan ke fotoku sendiri, jadinya fotoku yangg orang jalan dan ada gambar setan itu&#8230;  dan 2 orang anak kecil dan kapal.</em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1224" src="http://www.unposed.org/blog/wp-content/uploads/2009/11/3607471477_90ea9368bb_o.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1225" src="http://www.unposed.org/wp-content/uploads/2009/11/3607471471_d69a87e98d_o.jpg" alt="3607471471_d69a87e98d_o" /></p>
<p><em><strong>AS:</strong> Lalu setelah melihat Magnum dan  iN-PUBLiC, mulai agak banyak pemikiran bikin foto yang seperti apa.. Intinya foto kejadian sehari-hari dengan kejadian dan detail yang menarik, misalnya selain foto tentang hubungan elemen-elemen tadi, juga foto-foto yang memanfaatkan lighting gelap terang, framing, movement-blur, kejadian spesifik, dan sebagainya.</em></p>
<p><em></p>
<p></em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Salah satu hal yang menurutku menarik dari keadaanmu adalah domisilimu saat ini di Papua. Wilayah Indonesia bagian timur kulihat belum terlalu banyak diangkat dari sisi fotografi, dan sejumlah kecil orang yang memotretnya pun baru melakukannya sebatas menunjukkan keindahan alamnya, atau budaya masyarakat tradisionalnya yang untuk kebanyakan orang dilihat sebagai sesuatu yang eksotis. Bagaimana pandanganmu akan hal ini? Hal ini mempengaruhimu dalam memotret nggak sih, kamu melihat dirimu sebagai seorang &#8216;outsider&#8217; yang memotret hal-hal yang ada di luar kebudayaanmu, atau kamu nggak terpengaruh akan hal-hal seperti itu?</p>
<p><em><strong>AS:</strong> Nah, pikiranku juga begitu, selama ini Papua/orang Papua dipotret layaknya orang pergi ke tempat wisata, bukan sebagai tempat tinggal manusia dengan atribut kehidupan sehari-harinya. Aku inginnya malah memotret mereka dalam keadaan yang biasa. Intinya, aku ingin menunjukkan, Papua di kehidupan sehari-hari tanpa harus mendramatisirnya.</em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Tapi walaupun begitu, sepertinya nggak bisa dipungkiri bahwa lokasi memotretmu di Papua juga banyak berpengaruh ke keunikan hasil fotomu. Kulihat banyak yang bersetting non-urban, seperti misalnya pantai, sungai, dan nggak sedikit juga terlihat barisan pegunungan di latar belakang. Ini berbeda dengan tradisi street photography pada umumnya yang banyak menunjukkan kesibukan di kota-kota besar. Apa pemilihan setting ini sesuatu yang memang kamu sengaja, atau memang keadaan lokasi memotretmu di sana yang sangat dekat dengan alam bebas seperti itu? Bisa deskripsikan tempatmu biasa memotret di Papua?</p>
<p><em><strong>AS:</strong> Iya pastinya, tempat tinggalku memang dekat dengan alam bebas, dengan wilayah perumahan dan perkantoran di kota yang cuma sekitar 2 km², aku kesulitan mencari tanda-tanda urban di sini. Nggak disengaja tapi juga nggak menghindari, pada dasarnya aku memotret dimana saja, tinggal melihat apa yang terjadi di sekitar dan cari apa yang menarik saja. Fotoku kebanyakan di Paniai, Nabire dan Jayapura. Paniai itu yang kotanya nggak lebih dari 2 km², di ketinggian 1300m dpl, dengan danau di sekitarnya. Transportasi ke kota lain harus memakai pesawat. Nabire lebih ramai dan maju, di Nabire seringnya memotret di pasar dan pantai. Jayapura sudah agak urban, fotoku yang urban hampir semua diambil di Jayapura.</em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1232" src="http://www.unposed.org/wp-content/uploads/2009/11/4098274343_8f7431dd18_o.jpg" alt="4098274343_8f7431dd18_o" /></p>
<p><strong>Wid:</strong> Merasa diuntungkan nggak, dengan lokasimu yang bisa dibilang spesial dan nggak banyak bisa diakses fotografer lain dengan mudah?</p>
<p><em><strong>AS:</strong> Iya tentunya, walaupun kadang ingin juga motret kehidupan perkotaan dan menjalani kehidupan perkotaan.</em></p>
<p><strong>Wid: </strong>Tapi buatku salah satu keunikan dan kekuatan utama foto-fotomu (setidaknya sejauh ini) adalah interelasi antara orang-orang yang ada dalam scene yang kamu foto dengan tempat tinggal mereka yang memang berbatasan langsung dengan alam bebas itu&#8230; mereka tinggal sangat dekat dengan keindahan alam, tapi perilaku dan aktivitas mereka tak banyak berbeda dengan mereka yang tinggal di lingkungan yang lebih urban. Mungkin &#8216;tensi&#8217; antara dua karakteristik yang biasanya tidak kita jejerkan berdampingan inilah yang membuatku selalu tertarik pada karya-karyamu. Dan ini bukanlah sesuatu yang bisa ditemui di kota. Apa kamu nggak khawatir kamu akan kehilangan ciri khasmu itu kalau kamu motret di lingkungan yang lebih urban?</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1233" src="http://www.unposed.org/wp-content/uploads/2009/11/4020068340_3a5960d2ff_o.jpg" alt="4020068340_3a5960d2ff_o" /></p>
<p><em><strong>AS:</strong> Selama ini aku nggak pernah berpikir sampai situ, aku cuma berusaha lebih memperhatikan sekitar saja, foto-fotoku lebih ke reaksi atas apa yang aku lihat, kalau masalah kehilangan ciri khas, aku merasa itu bagian dari proses, dan aku menikmatinya, mengikuti saja mau ke mana selera motretku. Sampai sekarang aku tidak/blum menemukan sesuatu atau mindset yang bisa diejawantahkan jadi ciri khas di fotoku&#8230;</em></p>
<p><em></p>
<p></em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Hmm, ok, lalu bagaimana dengan orang-orangnya sendiri di Papua sana, bisa ceritakan bagaimana umumnya reaksi mereka akan orang yang memotret di tempat umum?</p>
<p><em><strong>AS: </strong>Beda-beda responnya sih, ada yang ramah dan senang, ada juga yang sampai memaki-maki&#8230; kalau di pedalaman lebih banyak yang marah, karena masih ada kepercayaan bahwa kalau orang di oto maka nyawanya akan hilang separuh.</em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Lalu biasanya bagaimana kamu menghadapi orang yang marah kalau difoto seperti itu? Pernah dapat masalah yang cukup serius berhubungan dengan itu?</p>
<p><em><strong>AS:</strong> Ya minta maaf, terus dihapus fotonya. Itu dulu sih, waktu itu aku nggak tahu kalau orang sini kepercayaannya seperti itu, sehabis peristiwa itu sebelum motret aku tanya dulu sama orang-orang di situ, &#8220;kalau orang-orang di sini difoto bagaimana Pak? marah apa nggak?&#8221; Kalau nggak ya aku motret, kalau iya ya nggak jadi motret&#8230; kalau sampai jadi masalah besar sih nggak pernah.</em></p>
<p><em></p>
<p></em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Ok, kita coba beralih ke contoh kasus foto-fotomu sekarang. Punya foto yang menurutmu adalah foto terbaikmu sejauh ini? Bisa ceritakan keadaan pada saat itu, apa yang menarik perhatianmu untuk memotretnya? Dan kenapa kamu pikir ia foto yang berhasil?</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1228" src="http://www.unposed.org/wp-content/uploads/2009/11/arifsetiawan_1.jpg" alt="arifsetiawan_1" /></p>
<p><em><strong>AS:</strong> Foto ini diambil di pinggiran rel Sudirman kalau nggak salah, aku lihat si bapak lagi masak, nggak sengaja lihat tattoonya, kuperhatikan ada lambang swastika dan tulisan macho, swastika bagi banyak orang berarti Nazi. Aku pikir &#8220;NAZI, MACHO, MASAK&#8221; akan berhasil.. dan semua elemen itu ada di garis yg dibentuk oleh tangan bapak itu&#8230;</em></p>
<p><em></p>
<p></em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Bagaimana dengan yang ini? Aku selalu melihatnya seperti seorang ksatria dan tunggangannya yang tengah berwaspada dengan tamengnya, dan selalu ingin tahu cerita di baliknya&#8230;.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1230" src="http://www.unposed.org/wp-content/uploads/2009/11/3607445055_69ac87a580_o.jpg" alt="3607445055_69ac87a580_o" /></p>
<p><em><strong>AS: </strong>Itu banyak faktor keberuntungannya. Ini posisiku lagi di motor boat kecil yang melewati danau, terus aku lihat dia lagi mencuci panci, iseng saja bikin stock foto orang Papua dengan berbagai aktifitasnya, aku nggak mengharapkan dapatnya pas sikap dia seperti ini&#8230;</em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Itu dia memang bersikap &#8216;sembunyi&#8217; di balik tutup panci, atau itu hanya gestur yang berlangsung sesaat saja?</p>
<p><em><strong>AS:</strong> Sesaat saja, pas aku mengarahkan kamera dia nggak seperti ini seingatku. Aku baru tahu pas lihat hasilnya di kamera.</em></p>
<p><em></p>
<p></em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Soal pembelajaran sekarang. Ada cara spesifik yang kamu lakukan untuk mengembangkan fotografimu?</p>
<p><em><strong>AS:</strong> Banyak melihat fotonya orang lain, dan nggak cuma yang sudah terkenal saja. Dan aku slealu bawa kamera digital ke mana saja, benar-benar ke mana saja, setiap keluar rumah selalu bawa. Dan di mana saja kalau lagi menganggur seringnya aku praktek metering dan focusing manual, mencoba berbagai jenis settingan cahaya dan kondisi, itu saja sepertinya yang kulakukan selama ini. Oh iya, kalau mau bertanya sama orang lain jangan malu-malu&#8230; kalau dijawab syukur, kalo nggak ya nggak apa-apa.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter size-full wp-image-1240" src="http://www.unposed.org/wp-content/uploads/2009/11/4019815300_cd374fc5bd_o.jpg" alt="4019815300_cd374fc5bd_o" /></p>
<p></em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Omong-omong soal pembelajaran, salah satu kemudahan di jaman online seperti sekarang ini adalah kita bisa dengan mudah menunjukkan foto-foto kita lewat berbagai platform dan mendapatkan feedback dari orang yang melihatnya. Seperti yang kita tahu, genre street sampai saat ini hanya terlihat menarik untuk sebagian kecil kalangan peminat fotografi (walaupun belakangan ini aku melihat ada peningkatan animo). akibatnya lalu kita jadi tanpa disadari membentuk satu kelompok-kelompok kecil yang pada dasarnya saling menyukai karya satu sama lain. Ini lalu berimplikasi pada komentar-komentar yang diberikan, yang pada akhirnya juga sama seperti kebanyakan komentar yang diberikan orang di banyak foto-foto cantik pada umumnya&#8230; komentar yang generik dan tidak terlalu membangun. Bagaimana pandanganmu akan hal ini?</p>
<p><em><strong>AS:</strong> Hmmm.. yang paling dasar adalah genre street ini definisi praktisnya banyak orang yang belum benar-benar paham (termasuk aku juga) Komentar generik (jika mau dipandang dari sudut yang baik) itu menurutku salah satu bentuk dukungan moril, setidaknya membangun kepercayaan diri untuk motret street (lagi) bagi sebagian orang&#8230; problemnya kebanyakan orang masih merasa nggak enak kalau harus mengkritik sesuatu yang bersifat subyektif. Itu bagian dari proses sih menurutku&#8230;</em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Tapi apakah pada jangka panjang nanti nggak berakibat pada hasil foto yg monoton? Maksudku&#8230; aku berpendapat kita pada dasarnya belajar dari kesalahan. sementara ketika 95% komentar yang masuk ke foto kita adalah komentar yang positif, sulit (setidaknya bagiku pribadi) untuk bisa belajar dari komentar itu karena toh foto apapun yg kita pajang, komentar yg masuk akan kurang lebih sama.</p>
<p><em><strong>AS:</strong> Nah, kita tahu mana komentar yang bisa diterima sebagai bahan pembelajaran, dan mana yang tidak kan? Kalau kita nggak bisa belajar di komunitas A, mungkin di komunitas A itu orang belajar dari kamu, maka mereka nggak berani mengkritik.. mungkin akan beda jadinya di komunitas B, di situ mungkin kamu akan banyak belajar dari komentar orang.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter size-full wp-image-1238" src="http://www.unposed.org/wp-content/uploads/2009/11/3794645218_ddc15b45d4_o.jpg" alt="3794645218_ddc15b45d4_o" /></p>
<p></em></p>
<p><strong>Wid:</strong> Ada keinginan untuk membawa fotografi yang kamu lakukan ini ke tingkatan yg lebih tinggi (apapun itu)? Atau kamu cuma menganggapnya sebagai hobi?</p>
<p><em><strong>AS:</strong> Kalau meningkatkan kemampuan, iya. Meningkatkan kualitas foto, iya. Tapi untuk mendapatkan sesuatu (apapun itu), nggak kepikir sampai sekarang. Sekarang cuma mau menunjukkan bahwa di Papua juga ada kehidupan, bukan cuma hutan-hutan, pantai-pantai indah, dan orang-orang telanjang.</em></p>
<p><strong>Wid: </strong>Selain dari dunia fotografi, apa ada sumber inspirasi lain yang mempengaruhi foto-fotomu?</p>
<p><em><strong>AS:</strong> Kehidupan lingkungan sekitar, sejak senang dengan snapshot/street aku juga lebih memperhatikan lingkungan sekitarku&#8230; jadi agak lebih peka dengan apa yg terjadi di sekitarku.</em></p>
<p><em></p>
<p></em></p>
<p style="text-align: center;">~</p>
<p style="text-align: left;">Foto-foto Arif Setiawan yang lain bisa dilihat di <a href="http://arifsetiawanarif.blogspot.com/">blog </a>maupun <a href="http://www.flickr.com/photos/arifsetiawan/">Flickr</a>-nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unposed.org/?feed=rss2&amp;p=1223</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunitas street photography di flickr</title>
		<link>http://www.unposed.org/?p=1207</link>
		<comments>http://www.unposed.org/?p=1207#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 08:58:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rivo Yubara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Talk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unposed.org/?p=1207</guid>
		<description><![CDATA[Dimasa sekarang begitu banyak pilihan aplikasi web atau aplikasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dimasa sekarang begitu banyak pilihan aplikasi web atau aplikasi jejaring sosial untuk mempublikasikan foto kita di internet.  Saat ini kita bahas flickr yuk, salah satu layanan berbagi foto yang populer di internet, tentu saja dalam hal ini saya bahas yang berkaitan dengan street photography.</p>
<p>Seperti layanan sharing foto lainnya flickr mempunyai layanan umum seperti upload dari komputer atau gadget, editing, dan fitur lainnya, kita ga akan bahas soal teknisnya disini. Di flickr kita akan menemukan komunitas photography yang amat beragam dan jumlahnya makin terus bertambah.  Seorang pemula dapat langsung berinteraksi dengan photographer profesional yang sudah lebih berpengalaman, bertukar pengetahuan dan menjalin pertemanan.<br />
Foto yang kita upload juga akan mendapat komentar beragam yang dapat membantu dalam proses belajar untuk menghasilkan karya yang lebih baik.  Salah satu layanan di flickr adalah groups, dapat digunakan untuk membangun komunitas photography dengan minat yang sama.</p>
<p>Kita dapat menggali banyak hal dari komunitas photography di flickr ini, banyak grup dengan tema street photography yang menarik diamati. Masing-masing punya ciri khas tersendiri, sebuah group dapat mempunyai aturan yang berbeda dan moderator punya wewenang mengatur komunitasnya. Proses belajar saya dalam photography adalah dengan melihat banyak foto, dengan mengamati banyak foto dapat memberikan motivasi buat saya, dan menambah ingatan dikepala yang berguna saat berburu moment dijalan <img src='http://www.unposed.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Jadi dengan mengamati pool di grup-grup street photography di flickr menambah wawasan saya tentang street photography. Kita juga bisa berinteraksi atau ikut aktif dalam forum dari grup-grup tersebut.<br />
Beberapa grup mempunya tim kurator untuk menyeleksi foto-foto yang masuk di pool, sebut saja <a href="http://www.flickr.com/groups/seconds2real/">seconds2real</a> selain seleksi fotonya ketat juga membatasi photographer untuk submit hanya 1 photo perbulan. Hal ini dapat memacu kreativitas dan kemampuan editing untuk memilih foto terbaik untuk gallery tersebut. Dan juga grup tersebut sudah berhasil membuat buku street photography kumpulan karya mereka.</p>
<p>Atau mungkin anda punya selera yang lebih spesifik?<br />
Suka motret keindahan perempuan berjalan di trotoar atau tempat umum? ada <a href="http://www.flickr.com/groups/alasauvette/">grupnya</a><br />
HCB fans dan cinta sama geometri? silakan lihat koleksinya <a href="http://www.flickr.com/groups/decisivemoment/">disini</a> dan <a href="http://www.flickr.com/groups/subjects_in_geometry/">disini</a><br />
Mau liat koleksi foto nenek atau kakek dijalanan? bisa liat <a href="http://www.flickr.com/groups/638348@N24/">disini</a><br />
Hasil motret refleksi di tempat umum, ada <a href="http://www.flickr.com/groups/mirror-street/">disini</a><br />
Suka dengan gaya sureal? <a href="http://www.flickr.com/groups/streetsurreal/">ada juga</a><br />
Suka motret malem dan terinspirasi dari film misteri? <a href="http://www.flickr.com/groups/streetnoir/">ada</a><br />
Moment menarik juga ada di pantai, silakan liat <a href="http://www.flickr.com/groups/44178394@N00/">koleksi fotonya</a></p>
<p>Bisa juga kumpul sesama photographer yg mengidolakan <a href="http://www.flickr.com/groups/martinparr/">Martin Parr</a>, <a href="http://www.flickr.com/groups/decisivemoment/">HCB</a>, <a href="http://www.flickr.com/groups/winogrand/">Winogrand</a>, <a href="http://www.flickr.com/groups/640806@N20/">Alex Webb</a>, <a href="http://www.flickr.com/groups/democraticforest/">Eggleston</a> dan lainya. Jika punya koleksi street foto anda bisa submit ke dalam grup-grup diatas, atau bergabung di forum berinteraksi dengan member lainnya, kadang juga ada lomba yg bisa diikuti meski ga dapet hadiah tapi bisa memacu kreatifitas.<br />
Atau malah bikin grup sendiri dengan ciri khas yang diinginkan, tinggal undang user lain untuk bergabung.</p>
<p>Buat saya yang baru mengenal street photography, mengamati grup-grup tersebut bisa memberi ide baru. Berbeda dengan mengamati photoblog dimana karya yang tampil adalah hasil &#8220;jadi&#8221;. Mengamati stream photographer lain di flickr dapat dilihat tidak hanya hasil akhir, tapi juga proses sang photographer dalam berkarya.</p>
<p>Tools baru dari flickr yaitu gallery yang memungkinkan kita untuk mengumpulkan foto-foto selain foto sendiri untuk dibentuk dengan tema yg sama. <a href="http://www.flickr.com/photos/25162474@N05/galleries/72157622248330051/">Ini</a> salah satu gallery yang saya buat dari grup <a href="http://www.flickr.com/groups/wdts/">WDTS</a> disaat iseng <img src='http://www.unposed.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Layanan di flickr memudahkan photographer untuk berinteraksi, membangun jaringan, dan mempublikasikan karyanya. Jika anda punya account yahoo maka dapat segera login di flickr dan upload foto-foto streetnya, salah satu grup yg saya temukan <a href="http://www.flickr.com/groups/wdts/">Walked down the street</a>, silakan bergabung <img src='http://www.unposed.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Semoga jadi manfaat</p>
<p>ealah hampir lupa, link flickr gratisan saya:<br />
<a href="http://www.flickr.com/photos/25162474@N05/">http://www.flickr.com/photos/25162474@N05/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unposed.org/?feed=rss2&amp;p=1207</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurniadi Widodo: “Menangkap momen tanpa mengatur scene”</title>
		<link>http://www.unposed.org/?p=1064</link>
		<comments>http://www.unposed.org/?p=1064#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 17:59:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fkusuma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Interview]]></category>
		<category><![CDATA[Kurniadi Widodo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unposed.org/?p=1064</guid>
		<description><![CDATA[Kurniadi Widodo adalah salah satu Documentary / Street Photographer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kurniadi Widodo adalah salah satu Documentary / Street Photographer yang berdomisili di Yogyakarta, dia adalah salah satu favorit Street Photographer saya sendiri yang ada di Indonesia (dan rasanya ada suatu kepuasan tersendiri bagi saya, bisa mewawancarainya). Karya-karyanya Kurniadi Widodo bisa dilihat disini:<a rel="nofollow" href="http://kurniadiwidodo.blogspot.com/" target="_blank">http://kurniadiwidodo.blogspot.com</a> dan <a href="http://shinsenfreak.deviantart.com">http://shinsenfreak.deviantart.com</a>.</p>
<p style="text-align: center;">___________________________________</p>
<p style="text-align: center;">
<p>FK: Hi Wid, bisa cerita sedikit, bagaimana pertama kali kamu tertarik di Street Photography? Dan menurut kamu Street Photography itu sesuatu yang bisa dipelajari atau talenta?</p>
<p><em>Wid: Kupikir ketertarikan awalku pada street photography adalah perkembangan logis dari bagaimana aku tertarik oleh kegiatan memotret itu sendiri sekitar 4 tahun yang lalu, yaitu dari keisenganku mendokumentasikan teman-teman kuliah di berbagai kesempatan. Sebelum aku tertarik fotografi aku sudah cukup sering memotret berbagai aktivitas mereka, dan sejak dulu aku selalu merasa tidak terlalu nyaman melihat teman-teman yg berpose ketika kufoto, dan karenanya aku lebih sering mencuri-curi snapshot mereka.</em></p>
<p style="text-align: center; "><img class="aligncenter" src="http://i560.photobucket.com/albums/ss50/fkusuma/foto1.jpg" alt="" width="511" height="339" /></p>
<p><em>Buatku, walaupun mungkin tidak selalu menampilkan sisi terbagus dari seseorang, foto snapshot lebih bisa membangkitkan ingatan akan hal-hal yang terjadi pada saat kita memotretnya ketimbang foto bareng ataupun foto berpose. Kebiasaan dan kecondongan “menangkap momen tanpa mengatur scene” itulah yang kemudian berlanjut ketika aku memutuskan untuk serius mempelajari fotografi, dan tentunya secara alamiah aku lebih tertarik pada sisi dokumenter dari fotografi. Dari situ, tidak butuh waktu lama sampai aku tahu tentang street photography dan merasa bahwa karakteristiknya sangat cocok dengan apa yang sudah kulakukan selama ini. </em></p>
<p><em>Soal bakat, mungkin memang memilikinya akan cukup membantu prosesnya, tapi kurasa siapapun bisa mempelajari street photography dan menjadi kompeten di dalamnya, selama dia memiliki semangat untuk terus menjadi lebih baik, keingintahuan yang besar, dan konsistensi dalam berkarya.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center; "><em><strong>~</strong></em></p>
<p style="text-align: center; "><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p>FK: Bisa sedikit definisikan<em> &#8216;style&#8217;</em> kamu sendiri itu seperti apa?</p>
<p><em>Wid: Aku tidak terlalu yakin bagaimana harus mendefinisikan foto-foto yang kubuat, karena dalam rentang waktu yg relatif masih singkat dalam mempelajari fotografi, aku merasa aku juga masih belum punya ‘suara’ yg jelas. Lagipula menurutku, ketimbang style, sebenarnya yang lebih penting untuk dimiliki terlebih dahulu adalah sesuatu untuk disampaikan. Bila fotografi adalah sebuah bahasa visual, suatu medium untuk berkomunikasi, maka sejauh ini aku merasa aku barulah belajar bagaimana caranya berbicara, memperluas kosakata visual yang kumiliki, dan mencari ‘intonasi’ bicaraku sendiri, tanpa benar-benar punya sesuatu yang jelas untuk kubicarakan/kusampaikan. Mungkin ini seperti orang pendiam yang sesekali mengeluarkan celetukan-celetukan singkat, isinya kadang cerdas dan berbobot, kadang lucu dan ringan, kadang tak bisa dimengerti dan sebagainya, tapi pada akhirnya setiap celetukannya bukanlah sesuatu yang penting. Aku merasa foto-fotoku seperti itu. Tidak ada kaitan satu dengan yang lain, setiap foto adalah cerita pendeknya sendiri.</em></p>
<p style="text-align: center; "><img class="aligncenter" src="http://i560.photobucket.com/albums/ss50/fkusuma/foto2.jpg" alt="" width="512" height="342" /></p>
<p><em>Dan kecuali pada sedikit kasus tertentu, aku juga pada dasarnya tidak terlalu tertarik untuk menyampaikan obyektivitas seperti halnya seorang fotojurnalis. Ini mungkin sedikit aneh mengingat sebelumnya aku bilang tertarik pada dokumenter… tapi yang kumaksud adalah lebih cenderung ke ‘dokumenter personal’, satu respon pribadi akan apa yang kita rasakan ketika mengalami sesuatu, dan bukan sesuatunya itu sendiri. Memotret sesuatu kan pada dasarnya mengatakan, “Lihat ini! Hal ini lebih menarik ketimbang hal-hal lain di sekitarnya!” Nah, seringkali ketika aku tertarik pada sesuatu yang kulihat, hal yang kuanggap menarik sebenarnya bukanlah apa yang sedang terjadi di situ, tapi apa yang mungkin bisa ‘dikembangkan’ dari apa yang sedang terjadi di situ. Bisa dikatakan aku tertarik pada cerita-cerita alternatif yang mungkin bisa terjadi dari suatu kejadian yang kufoto.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center; "><strong>~</strong></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p>FK: Apakah latar belakang kamu kuliah di Arsitektur cukup mempengaruhi (karena kalau aku lihat kamu banyak sekali bermain-main di unsur grafis) ?</p>
<p style="text-align: center; "><img class="aligncenter" src="http://i560.photobucket.com/albums/ss50/fkusuma/foto3.jpg" alt="" width="512" height="342" /></p>
<p style="text-align: left; "><em>Wid: Bisa dibilang begitu, walaupun lebih sebagai pemberi pengaruh estetik semata. Ini bisa dilihat dari komposisi foto-fotoku yang banyak memanfaatkan permainan bidang. Mungkin ini karena ‘photobooks’ pertama yang kulihat bukanlah buku fotografi, melainkan buku-buku yang membahas karya arsitektural yang berisi banyak foto-foto yang terkomposisi sangat rapi. Sering melihat foto-foto seperti itu membuatku peka akan bentuk dan ruang, sehingga tidaklah terlalu sulit bagiku untuk mereduksi hal-hal yang kulihat menjadi elemen-elemen desain yang lebih sederhana, seperti garis, lingkaran, persegi, dsb. Juga mengelompokkan hal-hal yang kulihat berdasarkan properti pendukungnya seperti warna, tekstur, dsb. Lebih mudah untuk menyortir dan menyusun kembali kekacauan visual bila kita tidak melihat segala sesuatu dari segi “apa”, tapi “bagaimana”. Tapi sejujurnya saat ini aku sedang bergelut untuk melepaskan pengaruh itu, walaupun pengaruh itu sendiri bukan sesuatu yang kulakukan secara sadar. Masalahnya adalah cara memandang seperti itu, walaupun ada gunanya, kadangkala pada akhirnya juga membatasi apa yang bisa “kulihat”. Adegan-adegan yang kuanggap menarik lalu hanya terbatas pada mereka yang memiliki keteraturan bentuk tertentu, dan lalu hal-hal yang menurutku berpotensi untuk difoto menjadi mudah tertebak, dan foto-foto yang dihasilkan pun juga akan terancam bahaya menjadi sesuatu yang klise. Aku melihat karena pengaruh studi arsitekturku, dan ditambah sifat perfeksionis yang kumiliki, foto-fotoku terlalu teratur, terlalu presisi. Aku berharap bisa membuat keteraturan itu setidaknya terlihat lebih subtle.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>~</strong></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p>FK: Menurut kamu pribadi bagaimana Street Photography itu seharusnya?</p>
<p><em>Wid: Cukup sulit menjawabnya, karena begini… bagaimana kalau misalnya aku balik bertanya, “seperti apa masakan yang enak itu seharusnya?” atau &#8220;bagaimana musik yang bagus itu mestinya?” Sebagaimana hal-hal lainnya yang kita tangkap dan nikmati dengan panca indera kita, jawaban terbaik yang bisa kuberikan untuk pertanyaan seperti itu hanyalah, “kita cuma akan tahu ketika kita mengalaminya.”  Mungkin memang jawaban itu terkesan tidak banyak memberi masukan ya, tapi coba pikirkan, kalau aku sudah tahu terlebih dahulu bagaimana seharusnya foto yang bagus itu, pasti sudah setiap saat kupraktekkan dan tiap foto yang kuhasilkan akan menjadi bagus kan? Menurutku kita cuma bisa melihat contoh per kasus dan menilai dari berbagai kriteria yang sudah kita kumpulkan dan pelajari sebelumnya, apakah foto yang kita lihat adalah sebuah foto yang bagus.</em></p>
<p style="text-align: center; "><img class="aligncenter" src="http://i560.photobucket.com/albums/ss50/fkusuma/foto4.jpg" alt="" width="512" height="342" /></p>
<p><em>Tapi bagaimanapun, ada beberapa karakteristik tertentu yang selalu muncul di setiap karya street photography yang kusuka. Yang terutama adalah ia mampu bercerita dan mengingatkan tentang bagaimana artinya hidup sebagai seorang manusia, yang selalu saja mempengaruhi segala sesuatu yang ada di sekitarnya, entah itu baik ataupun buruk. Dalam beberapa kasus mungkin malah tidak harus ada manusia di dalam sebuah foto street yang menurutku bagus, tapi ia tetap bisa ‘manusiawi’ dan membuat kita berpikir tentang kehidupan kita. Mungkin itu ya penentunya, ketika foto tak hanya mengejutkan kita di awalnya saja karena tampilan yg menarik, tapi juga bisa menahan kita untuk terus melihatnya dan ‘berdialog’ dengannya… ketika foto tidak menjadi sebuah ujung, tapi justru hanyalah sebuah pangkal. Seperti sebuah jendela, yang mengajak dan mengijinkan kita untuk melongok ke sisi yang lebih luas yang ada di baliknya. Pada saat itulah kita akan tahu bahwa ia adalah sebuah foto yang bagus.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center; "><strong>~</strong></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p>FK: Kenapa pilih hitam-putih? Apakah ada hal yang ingin diperkuat? Atau malah ingin disembunyikan?</p>
<p><em>Wid: Dalam kasusku kurasa lebih karena yang ada yang ingin disembunyikan ketimbang diperkuat. Seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, aku tertarik untuk menciptakan narasi baru yang berjalan beriringan dengan narasi aslinya, tanpa mengganggu jalannya narasi asli itu sendiri. Keberadaan warna seringkali kulihat membantu kita untuk mengidentifikasi apa yang sedang terjadi di dalam satu adegan, menghubungkannya dengan kenyataan yang sudah pernah tersimpan di otak kita. Dengan foto hitam putih aku melihat hubungan itu bisa setidaknya dikurangi, ketiadaan warna membuat kita lebih sulit mengasosiasikan adegan dalam foto ke bank data di otak kita. Bila dikombinasikan dengan kondisi-kondisi tertentu seperti pencahayaan, penghubungan obyek-obyek yang tak terduga, dan sebagainya, aku mendapati bahwa semua hal tersebut bisa menimbulkan semacam disorientasi yang kemudian akan membuat kita mengisi kekosongan informasi yang ada di foto itu dengan apapun yang kita mau. Belakangan ini aku mulai mengeksplorasi warna juga sih, tapi dengan cara pandang yang berbeda dari apa yang selama ini kulakukan di street photography hitam putih. Aku belum tahu apakah ini nantinya akan mempengaruhi pertimbanganku juga dalam memotret street ataupun membuatku sepenuhnya beralih ke warna, kita lihat saja nanti. Yang jelas aku berusaha mencari berbagai alternatif solusi karena dengan apa yang kulakukan, ada beberapa persoalan yang tidak bisa kupecahkan.</em></p>
<p style="text-align: center; "><img class="aligncenter" src="http://i560.photobucket.com/albums/ss50/fkusuma/foto5.jpg" alt="" width="512" height="342" /></p>
<p style="text-align: center; ">
<p style="text-align: center; "><strong>~</strong></p>
<p style="text-align: center; "><strong><br />
</strong></p>
<p>FK: Kalau aku lihat di Indonesia, Street Photography masih sering kali di salah artikan sebagai “foto yang di ambil di jalanan”. Siapa yang salah sebetulnya? Merasa terbebani, sekaligus tertantang untuk mengubah hal ini lewat foto-foto kamu?</p>
<p><em>Wid: Menurutku semua pihak -termasuk pelaku street photography sendiri- punya andil yang mengakibatkan timbulnya kebingungan dan kesimpangsiuran akan genre fotografi ini. Sebagai permulaan, street photography yang di Eropa sudah mulai hidup sejak awal abad ke-20, di Indonesia adalah sesuatu yang belum terlalu lama ini berkembang. Era internet bisa dibilang adalah penyebab utama generasi kita terekspos pada street photography. Sebelumnya, kurasa hanya sedikit orang yang mengetahuinya, apalagi melakukannya. Tidak seperti genre fotografi lain, di Indonesia kita tidak punya pionir ataupun fotografer senior yang bisa kita jadikan dasar patokan untuk menilai karya-karya street photography yang generasi sekarang mulai hasilkan. Karenanya lalu peminat fotografi umum dan awam menggunakan dasar patokan dari genre fotografi lain untuk menilai karya-karya street, dan ini menyebabkan ketimpangan karena memang kaidah-kaidahnya tidak sama. Sayangnya ini kemudian diperparah lagi dengan kejelekan kita yang malas mencari tahu lebih banyak. Aku yakin kita pasti pernah menemukan situasi dimana ada seseorang (atau mungkin kita sendiri) memberi artikel fotografi di diskusi internet hanya untuk kemudian menerima respon seperti “wah saya masih newbie”, “yang bahasa Indonesia nggak ada?”, dsb dari penerimanya. Situasi seperti ini amat sangat menghambat pertukaran informasi.</em></p>
<p><em>Hal di atas itu pada gilirannya menyebabkan pelaku street photography di Indonesia yang jumlahnya tidak signifikan dibanding penggemar genre fotografi lainnya pun lalu merasa malas untuk bertukar informasi, dan lalu hanya berinteraksi dengan mereka yang berminat sama saja, yang pada akhirnya memberi kesan peminat street adalah orang-orang yang elitist dan arogan. Aku bisa bilang seperti itu karena beberapa orang memang pernah menyampaikan asumsi seperti itu. Menurutku yang bisa kita lakukan adalah hanyalah terus berkarya secara konsisten, dan membuat outlet yang membahas street photography secara terbuka dan mudah diakses seperti Unposed ini, dan berharap bahwa dalam beberapa tahun ke depan, semua ini akan mulai menunjukkan hasilnya dan street photography akan menjadi satu genre yang dimengerti dan juga patut diperhatikan di Indonesia. Seperti yang kukatakan tadi, kita tidak punya pionir di bidang ini… maka mau tidak mau generasi kita lah yang harus jadi pionirnya.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center; "><strong>~</strong></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p>FK: Sekarang aku akan sedikit membahas tentang Yogyakarta yang mana hampir semua foto kamu dibuat disana. Aku percaya Yogyakarta punya karakteristik yang berbeda, Yogyakarta terlihat punya ciri khas tersendiri, akulturasi antara modern dan tradisional, ditambah Yogyakarta punya ‘slower pace’ dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia (Jakarta khususnya). Apakah karakteristik ini yang membuat kamu nyaman mendokumentasikan Yogyakarta ?</p>
<p><em>Wid: Jogja memang kota yang punya arti khusus buatku. Dari beberapa kota yang pernah kutinggali, cuma Jogja yang bisa membuat aku menganggapnya “kampung halaman”, walaupun nyatanya aku bukan penduduk asli sini. Tapi kenyamanan tinggal di sini kupikir tidak sama dengan kenyamanan mendokumentasikannya. Maksudku, “memotret Jogja” dan “memotret sesuatu yang ada di Jogja” adalah dua hal yang berbeda. Dan walaupun aku sangat ingin bisa melakukan yang pertama, kurasa aku baru bisa melakukan hal yang kedua. Aku masih belum bisa menemukan cara yang tepat menangkap ‘jiwa’ kota ini, menunjukkan apa yang begitu kusuka dari Jogja sehingga betah tinggal di sini dan menampilkannya dalam foto-fotoku… mungkin karena ia memang bukanlah sesuatu yang bisa kita tangkap secara visual. Yang jelas, ia tidak bisa ditangkap hanya dengan memasukkan suatu ikon yang kerap diasosiasikan dengan kota ini… misalnya, hanya karena aku memotret Kraton, atau Malioboro, atau Candi Prambanan, atau Parangtritis, tidak lalu berarti aku telah berhasil menunjukkan apa yang kusuka tentang kota ini. Karena aku bisa merasakan bahwa ia lebih dari sekedar itu. Sebagai orang yang tinggal di Jogja, sehari-hari aku malah jarang melihat hal-hal yang kusebutkan tadi, dan karenanya tidak terlalu merasakan kaitan batin dengannya, tapi toh itu sama sekali tidak mengurangi kecintaanku akan Jogja. Kalau kulihat-lihat lagi tidak banyak fotoku yang bercerita tentang Jogja secara langsung. Kalaupun ada paling seperti foto ini, yang lebih menceritakan tentang romantisasi ide yang kupunya akan kota ini, ketimbang fakta konkritnya:</em></p>
<p style="text-align: center; ">
<p style="text-align: left; "><em>Atau mungkin itu juga hal yang menghalangiku mendokumentasi tempat tinggalku ini: yang kucintai mungkin saja adalah ide tentang Jogja, dan bukannya Jogja itu sendiri. Entahlah, aku juga masih bergelut untuk mengetahuinya.</em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="foto6" src="http://i560.photobucket.com/albums/ss50/fkusuma/foto6.jpg" alt="foto6" width="576" height="385" /></p>
<p style="text-align: center; "><strong>~</strong></p>
<p style="text-align: center; "><strong><br />
</strong></p>
<p>FK: Cerita sedikit dong tentang foto kamu yang ini, aku tertarik bagaimana kamu memanfaatkan &#8220;<em>lines&#8221;</em> dan &#8220;<em>space&#8221;</em> ?</p>
<p style="text-align: center; "><img class="aligncenter" src="http://i560.photobucket.com/albums/ss50/fkusuma/foto7.jpg" alt="" width="520" height="344" /></p>
<p><em>Wid: Foto itu kubuat di sebuah perlombaan renang tingkat SMP se-Jawa &amp; Bali yang kebetulan diadakan di sebuah sport center di dekat tempat aku tinggal. Aku sebenarnya tidak tahu ada perlombaan itu, yang kutahu hanyalah sport center itu jauh lebih ramai dari biasanya ketika itu. Karena tertarik, aku masuk ke dalam (untuk pertama kalinya pula). Setelah beberapa saat melihat-lihat, aku mulai memotret suasana sekitar dan pada saat itulah aku melihat tribun penonton yang tempatnya persis berada di atas kotak start perenang. Sejak melihat lokasi tribun yang potensial aku sudah langsung memiliki bayangan untuk memotret para perenang ketika melakukan lompatan start. Jumlah perenang yang bisa dimasukkan frame maksimal 2 orang, konsekuensi penggunaan lensa 50mm yang kupakai ketika itu. Mempertimbangkan hal itu dan melihat background dasar kolam yang simpel serta keberadaan tali pembatas jalur di kolam, aku berpikir komposisi simetris cocok untuk situasi ini, dan yang perlu kulakukan setelahnya hanyalah menunggu momen yang tepat untuk melengkapi scene minimalis ini. Tapi aku sama sekali tidak menduga akan mendapatkan momen dimana salah satu perenang telah mencapai air sementara yang satunya masih di udara… aku hanya ingat menekan shutter release ketika aku melihat keduanya melompat. Aku sendiri kaget juga begitu melihat frame ini setelah mendapatkan roll-nya dari lab. Apalagi frame ini adalah satu-satunya yang kuambil dari momen dan komposisi ini!</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center; "><strong>~</strong></p>
<p style="text-align: center; "><strong><br />
</strong></p>
<p>FK: Bagaimana dengan yang ini ?</p>
<p style="text-align: center; "><img class="aligncenter" src="http://i560.photobucket.com/albums/ss50/fkusuma/foto8.jpg" alt="" width="520" height="348" /></p>
<p>Sudah observasi sebelumnya ?</p>
<p><em>Wid: Foto ini diambil di event Grebeg Sekaten di Kraton Jogja. Semenjak menjamurnya kamera digital, event-event budaya seperti ini selalu jadi magnet bagi banyak pemilik kamera dari berbagai latar belakang, termasuk aku sendiri. Cuma, walaupun masih tetap suka datang ke event seperti ini, belakangan ini aku tidak lagi mendokumentasi jalannya prosesi budayanya sendiri karena dengan banyaknya jumlah pemotret (yang seringkali malah jauh lebih banyak ketimbang peserta prosesinya), foto yang kuhasilkan dari memotret prosesi itu pasti tidak akan jauh berbeda dengan pemotret lain di sekitarku yang juga sibuk berebut tempat untuk angle terbaik. Dan kalaupun aku bisa mendapat foto yang cukup baik dari prosesi itu, kupikir pada akhirnya yang bisa kutunjukkan adalah foto dari sesuatu yang aku yakin banyak orang sudah pernah lihat sebelumnya, dan kemungkinan juga mereka telah melihat foto yang lebih baik dari adegan itu. Karenanya aku melihat event budaya seperti ini semata sebagai waktu dan tempat dimana banyak orang berkumpul. Dan di situasi seperti itu hal-hal menarik akan lebih sering terjadi, seperti contohnya foto ini.</em></p>
<p><em>Pada saat itu rangkaian acara utama belum dimulai. Gunungan berisi makanan yang nantinya akan diperebutkan masyarakat belum berjalan, para prajurit kraton juga masih belum berpawai. Kebanyakan fotografer kulihat juga tidak banyak memotret di rentang waktu itu, tapi buatku inilah masa dimana aku bisa bebas berkeliling, sebelum tempat ini nanti akan penuh sesak. Awalnya aku melihat sekumpulan petugas keamanan wanita yang juga tengah menunggu jalannya prosesi. Dua orang dari mereka (di kumpulan di sisi kiri frame) telah terlihat menggunakan telepon genggam mereka. Ketika aku bergerak mendekat, salah seorang dari mereka (petugas di kanan frame ini) memisahkan diri dan mulai mengangkat telepon genggamnya sendiri. Aku sudah cukup senang dengan momen itu dan sudah siap membidik lewat viewfinder, ketika tiba-tiba seorang wanita lain masuk frame dari arah kiri, berhenti di tengah frame, dan memeriksa telepon genggamnya. Yang perlu kulakukan hanyalah menekan shutter release… ini seperti mengkonfirmasi bahwa street photography memanglah banyak tergantung pada keberuntungan, tapi keberuntungan akan lebih sering terjadi ketika kita siap mengantisipasinya.</em></p>
<p style="text-align: center; "><strong>~</strong></p>
<p style="text-align: center; "><strong><br />
</strong></p>
<p>FK: Pertanyaan terakhir, ada keinginan tertentu yang ingin kamu capai? Ada saran yang ingin kamu sampaikan untuk  yang ingin serius di Street Photography?</p>
<p><em>Wid: Aku pada dasarnya bukan orang yang mempunyai ambisi tinggi, aku tidak punya cita-cita untuk menjadi fotografer yang populer, yang sukses secara materiil atau semacamnya… sederhana saja, aku hanya berharap bisa terus melakukan apa yang kulakukan sekarang. Tidak terbatas hanya street photography, tapi proses fotografi itu sendiri secara keseluruhan. Karena walaupun aku tidak tahu pasti apa gunanya aku memotret hal-hal yang kufoto saat ini, aku meyakini sepenuhnya dalam hati bahwa ini adalah sesuatu yang buatku ‘benar’. Fotografi adalah caraku memasukakalkan hal-hal yang ada di sekelilingku. Ada sebuah kutipan dari Josef Koudelka yang kusuka dan sangat beresonansi dengan apa yang kurasakan: “I want to find my limits, to see how far I can go. The maximum, that&#8217;s what&#8217;s always interested me.”</em></p>
<p><em>Untuk saran… buka wawasan, jangan mudah merasa puas, selalu pertanyakan segala alternatif solusi yang mungkin (“bagaimana kalau…”) di berbagai permasalahan visual yang anda temukan, jangan takut mencoba hal baru di luar kebiasaan –bahkan menurutku cobalah sengaja lakukan hal yang ‘salah’. Dan juga yang paling penting, nikmatilah proses melakukannya. Street photography buatku bukanlah hanya soal foto-foto yang anda hasilkan, tapi juga soal apa yang terjadi selama anda berjalan kaki dan melihat serta menerima dunia di sekeliling anda.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center; "><em><strong>~</strong></em></p>
<p style="text-align: center; "><em><strong><br />
</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unposed.org/?feed=rss2&amp;p=1064</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Street Photography dan Photojournalism</title>
		<link>http://www.unposed.org/?p=1048</link>
		<comments>http://www.unposed.org/?p=1048#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 16:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryandi Sulistyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unposed.org/?p=1048</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya buat dengan tujuan sharing atau diskusi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1049" class="wp-caption aligncenter" style="width: 531px"><img class="size-full wp-image-1049" title="untitled-scanned-44" src="http://www.unposed.org/wp-content/uploads/2009/10/untitled-scanned-44.jpg" alt="untitled-scanned-44" width="521" height="240" /><p class="wp-caption-text">(C) Ryandi Sulistyo</p></div>
<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoPlainText">Tulisan ini saya buat dengan tujuan sharing atau diskusi. Street Photography, satu hal baru yang saya kenal beberapa waktu terakhir di dunia fotografi. Kesan pertama yang saya tangkap adalah , tampaknya street photography tidak jauh berbeda dengan foto jurnalistik atau dokumenter. dengan kebanyakan foto yang ditampilkan berupa foto hitam putih dan mengangkat tema tentang kehidupan social dan hal hal disekitarnya.</p>
<p class="MsoPlainText">Tapi hal yang<span> </span>baru saya sadari ternyata Street photography adalah satu hal yang sangat jauh berbeda dengan foto jurnalisme pada umumnya. Karena saya tidak mempunyai background jurnalistik maka hal ini mengundang pertanyaan pada diri saya, apa sih persamaan dan perbedaaan antara foto jurnalistik. Berikut ini kutipan kriteria foto jurnalistik yang baik dari Eddy Hasby, fotografer senior KOMPAS.</p>
<p class="MsoPlainText">Foto jurnalistik yang baik tidak hanya sekedar fokus secara teknis, namun juga fokus secara cerita. Fokus dengan teknis adalah gambar mengandung tajam dan kekaburan yang beralasan. Ini dalam artian memenuhi syarat secara teknis fotografi. Fokus secara cerita, kesan, pesan dan misi yang akan disampaikan kepada pembaca mudah dimengerti dan dipahami.</p>
<p class="MsoPlainText">Kelompok kerja PWI bidang Foto Jurnalistik penah membuat suatu rumusan di untuk menilai sebuah foto jurnalistik yang dilihat dari kuat lemahnya sosok penampilan foto berita ialah :</p>
<ol>
<li>Kehangatan/Aktual. Sesuai dengan prasyarat umumnya sebuah berita, subyeknya bukan merupakan hal basi, sehingga betapapun suksesnya pengambilan sebuah foto bila tidak secepatnya dipublikasikan, sebuah foto belumlah memiliki nilai berita.</li>
<li>Faktual. Subyek foto tidak dibuat-buat atau dalam pengertian diatur sedemikian rupa. Rekaman peristiwa terjadi spontan sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya, karena ini berkaitan dengan suatu kejujuran.</li>
<li>Informatif. Foto mampu tampil dan dalam lebatan yang dapat ditangkap apa yang ingin diceritakan di situ, tanpa harus dibebani oleh sekeranjang kata. Pengertian informatif bagi tiap foto perlu ukuran khas. Sedikit berbeda dengan sebuah penulisan yang menuntut unsur 5W + 1H dalam suatu paket yang kompak, maka dalam sebuah foto jurnalistik minimal unsur who (siapa), why (mengapa) jika itu menyangkut tokoh dalam sebuah peristiwa. Dan keterangan selanjutnya untuk melengkapi unsur 5W + 1H (sebagai pelengkap informasi) ditulis pada keterangan foto (caption).</li>
<li>Misi. Sasaran esensial yang ingin dicapai oleh penyajian foto berita dalam penerbitan, mengandung misi kemanusian û merangsang publik untuk menghargai apa yang patut dihargai atau sebaliknya menggugah kesadaran mereka untuk memperbaiki apa yang dianggap brengsek.</li>
<li>Gema. Gema adalah sejauh mana topik berita berita menjadi pengetahuan umum, dan punya pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari dalam skala tertentu. Apakah satu peristiwa atau kejadian cuma bersifat lokal, nasional, regional atau internasional.</li>
<li>Aktraktif. Menyangkut sosok grafis foto itu sendiri yang mampu tampil secara mengigit atau mencekam, baik karena komposisi garis atau warna yang begitu terampil maupun ekspresif dari subyek utamanya yang amat dramatis.</li>
</ol>
<p>(Sumber Kreteria Penilain lomba foto Kelompok kerja PWI bidang Foto Jurnalistik)</p>
<div id="attachment_1050" class="wp-caption aligncenter" style="width: 266px"><img class="size-full wp-image-1050" title="101_5281" src="http://www.unposed.org/wp-content/uploads/2009/10/101_5281.jpg" alt="101_5281" width="256" height="384" /><p class="wp-caption-text">(C) Ryandi Sulistyo</p></div>
<p class="MsoPlainText">Dari 6 point diatas saya tarik kesimpulan bahwa kriteria foto jurnalistik yang baik mempunyai satu tujuan, yaitu mendukung sebuah pemberitaan yang global dan membublik.</p>
<p class="MsoPlainText">Sedangkan street photography dibuat karena ada hal satu hal unik atau lebih yang menarik perhatian pembuat foto secara pribadi. Dalam hal ini bisa keadaan, bentuk tubuh, pakaian yang dikenakan, persamaan, perbedaan Apapun yang terlihat menarik dan menggerakkan hai sang<span> </span>fotografer untuk mengambil gambar keadaan tersebut tanpa memikirkan kepetingan global dan publik seperti yang di lakukan para fotografer jurnalistik . para fotografer jurnalistik memiliki perlengkapan tempur yang mendukung , gear yang memadai. Tahan banting , contohnya lensa panjang untuk mengcandid dari artis bugil dari kejauhan (paparazzi). Dan selalu harus menceklis kebutuhan mereka sebelum ke lokasi kejadian, sementara st eet fotografer lebih bebas mengekspresikan segalaya, foto fotonya tidak ada batasan ,semuanya tergantung dari sense of art dan cerita yang ingin di gambarkan secara personal kedalam suatu frame.</p>
<p class="MsoPlainText">Bicara mengenai teknis , jurnalis memiliki tuntutan lebih karena mereka mempunyai tanggung jawab terhadap perusahaan tempat dia bekerja (agensi,Koran,majalah) dan terhadap keinginan public untuk sebuah foto yang menerangkan secara detail mengenai suatu berita/cerita. Sebaliknya Street fotografer<span> </span>memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri karena street fotografi adalah sebuah seni yang idealis.</p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unposed.org/?feed=rss2&amp;p=1048</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
