VOLUME OTAK DALAM APRESIASI

Copyright IvanJ
Copyright IvanJ

Acap kali dalam melihat sebuah makna, kita akan secara otomatis memaknai sebuah hal di depan mata kita, saat yang bersamaan kita mengirim stimulus tersebut langsung ke otak, dengan proses 1/1juta detik, makna itu pun murni, tanpa terusik konsep maupun teori tambahan, lalu otomatis akan muncul ke permukaan.
Kita sebut keadaan ini “kesan pertama”.

Bagaimana hubungannya dengan sebuah intrepetasi?, bahkan apresiasi .

Mari kita balik ke “kesan pertama”, “kesan pertama” adalah gabungan referensi, yah, semacam sebuah blok-blok yang membangun diri anda-anda sekalian selama ini, kenapa? Karena menurut teorinya, manusia diciptakan memiliki “free will” (walaupun saya tidak percaya ajaran) tapi yang ini saya setuju. Di karenakan “free will” tersebutlah, kita tidak mungkin bisa membatasi masukan-masukan yang masuk ke otak. Apalagi di jaman kegelapan ini, malah sangat-sangat membeludak. Sementara penyeragaman referensi disana sini, yang pada akhirnya bertujuan untuk memerdekakan sebuah konsep.

“Kemerdekaan sebuah konsep, penjajahan seorang manusia”

yang harusnya memiliki kebebasan berpikir, mungkin ini yang sering kali saya rasakan terhadap diri sendiri maupun melihat sekitar. Bentuk konstruksi manusia yang bebas menerima input, sebenarnya memiliki “celah” yang bisa di hack, dan membuat mereka menjadi irelevant. Apakah ini prinsip dasar pelet? Tentu tidak, kemungkinan besar menurut saya, ini prinsip dasar komunikasi masal cara hitler mengkomandoi tentaranya di jerman ! ha ha ha.
Lalu, bagaimanakah masa depan manusia kini.. ? apakah kita hanya boneka fana sampai masa depan menelan kita..?

Untuk bisa berpikir bebas adalah kemerdekaan,

Bebas artinya anda menguasai sebuah ide, bukan sebaliknya ( kadang bisa saja berjalan bersama ide dan gak harus menguasai sih, terkesan jahat), mungkin bisa di bahas di artikel-artikel selanjutnya.
Bagaikan sebuah drum, otak anda akan overloaded jika volumenya kecil,sementara air yang diisi sangat banyak dan terus mengalir, bagaimana menguasai derasnya air? Cukup mustahil bagi sebuah drum, untungnya konstruksi manusia memiliki jawaban untuk “celah” tersebut..setidaknya volume otak manusia bisa berevolusi (lebih berwarna) dengan makin banyaknya usaha terbuka dari seseorang untuk menerima hal baru. Semakin banyaknya referensi yang diterima, maka semakin mengertilah kita dimana titik netral, yang pada akhirnya seorang manusia bisa naik setinggi tingginya dan bisa turun serendah rendahnya dalam sebuah level (hal disini supaya nyambung adalah, fotografi)

Rasakan ini..

“Foto ini kenapa di cari cari ga ada bagus bagusnya”
“Sekilas melihatpun saya tau foto ini tidak bermakna”
“Foto bagus dan jelek itu keliatan dari feelingnya..”
“Pameran itu bagus banget fotonya, keren”
“Kak foto streetku bagus ga? , Masih jelek bro, belajar lagi lah”
“Gimana ya ? gimana? Supaya saya jadi dia..”
“Fotonya saking jelek dan ga pentingnya sampai bingung mau komen apa..”
“Biasa semua.. foto biasa..”

 

Saya bisa katakan semua contoh ucapan di atas adalah bukti tanda seorang fotografer masih terjajah konsep, ( kita tidak bisa lari bung )
Seseorang terbukti tidak mampu “naik setinggi tingginya dan bisa turun serendah rendahnya” , ya saya sadar tidak ada manusia yang sempurna, toh namanya manusia. Tapi apakah kita akan tinggal diam? Saya harap sih jangan, karena kayaknya seru juga tantangannya. Untuk naik-turun? Ya naik turun.. mungkin bagi manusia naik sudah biasa, semua orang bermotivasi untuk naik, tapi turun? Apakah mungkin?
Pertanyaannya sedangkal manakah pemikiran anda bisa merayap?

copyright henri cartier bresson
copyright salah satu fn-ners
copyright unknown travel photographer
copyright lycanmetal666

“Tinggi dangkalnya sebuah foto (manusia) bergantung dari volume otak anda”

“intrepetasi adalah nilai sebuah foto”

Seberapa banyak anda mengumpulkan referensi (secara luas) , sebesar apa kapasitas otak anda, ataupun seberapa berwarnanya hari hari anda kawan.
Manusia membunuh sesama dengan mengintrepetasi dengan garis tipis, volume otak yang kecil, tanpa referensi yang cukup, begitu juga pun dengan foto,
Saya masih malu mengupload foto yang tidak wah di unposed.org maupun mejeng di pameran bersama seniman lainnya.

hmm, Mungkin saya akan mulai dr brewok saya yg akan saya penuhin sampai menutupi muka saya? Belum memungkinkan rasanya…
Tapi saya akan coba mendangkalkan diri dan mengerti banyak hal
termasuk belajar street fotografi yang banal, bahkan di foto foto lainnya.

Semoga berguna

 

Jadi tengsin.
Cheers!

Share Button
Tags from the story

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *