sebuah esai untuk tradisi street indonesia

rangkuman diskusi tengah malam berujung ajakan pijet waria di stasiun Malang

Tuhan lalu membuat manusia dari segumpal tanah, diajari-Nya berbagai nama2 dan atas keunggulannya itu malaikat bersujud

Tentang nama2, manusia diajari Tuhannya, namun ketika manusia membicarakan ‘arti’ dari nama2 tersebut, ketika manusia mencoba memaknai sebuah kata (benda), apakah arti tersebut ‘disampaikan’ seperti Tuhan menyampaikan nama2 benda di kompetisi pada masa Kejadian Awal tersebut ?

Secara commonsense sih enggak, itu gunanya Tuhan ngasih free will khan ? Kehendak bebas.

Untungnya kita gak hidup dijaman kegelapan dimana diskusi kehendak bebas bisa berujung ke pengucilan, nahasnya ya kematian.

Maka ketika otak manusia melihat kata2 tersebut, benda2, text2 tersebut, otaknya yang bebal mulai bekerja serampangan dan secara semena2 dan sombong bak iblis yg enggan sujud mulai memberi arti ke benda2, teks2 yang saling berkesinambungan lalu keluar dari mulutnya “wah, fotonya bercerita sekali !”

Jadi, apa benar foto itu bercerita ? Apa bisa selembar kertas (atau pixel2) punya mulut lalu berkata ‘pada jaman dahulu kala’ (karena sejatinya, sebuah foto adalah masa lalu) ?

Sekali2 tidak ! Sebenarnya kitalah yang memberi makna2 tersebut, kitalah si pengarang cerita, semua didasarkan atas pengalaman2 unik masing2 orang terhadap benda2, teks2 dan kata2 tersebut.

Jadi atas sebuah foto tentu masing2 orang punya cerita sendiri2. Seorang kelas menengah akan melihat foto dan berkata ‘betapa malangnya orang miskin, betapa harus bersyukurnya kita’. Lalu orang kiri anarkis berkata ‘blame the f* government’ sementara pasangan si subjek bakal bilang ‘si akang, ganteng bener yeuh’

Pemaknaan yang begitu arbitrer tersebut bisa mengarah ke chaos, sang pengambil gambar ternyata memberikan persepsi berbeda untuk khalayak. Komunikasi disini, telah gagal.

Tetapi, apa benar begitu ? Apakah benar komunikasi itu begitu arbitrer ? Ternyata tidak. Ternyata sistem bahasa pun simbol2/subjek2 dari foto dalam frame 4 persegi tersebut mengikuti kaidah2 tertentu. Sebuah tradisi. Sebuah kesepakatan.

Tiang adalah phalus, landasannya vagina, keduanya melambangkan kesuburan, dan begitu pula payudara besar, terasosiasi bahwa anak dari sang ibu dikemudian hari, tidak kekurangan asi.

Maka didalam tradisi ini orang mencari pemaknaan, sebuah pemaksaan kalau boleh saya bilang. Sebuah benang merah dari tradisi yang berjalan turun temurun, selama puluhan tahun. Tradisi magnum photos. Tradisi VII, tradisi unposed mungkin ?

Bersambung…

Share Button
Written By

Selalu menganggap dirinya seorang shugyosha ronin ketika di jalan. Memandang street shots sebagai sarana meningkatkan kepekaan spiritual dan mengasah kemampuan-kemampuan fisik.

4 Comments

  • re: “Sebenarnya kitalah yang memberi makna2 tersebut, kitalah si pengarang cerita, semua didasarkan atas pengalaman2 unik masing2 orang terhadap benda2, teks2 dan kata2 tersebut. (…)Jadi atas sebuah foto tentu masing2 orang punya cerita sendiri2. Seorang kelas menengah akan melihat foto dan berkata ‘betapa malangnya orang miskin, betapa harus bersyukurnya kita’. Lalu orang kiri anarkis berkata ‘blame the f* government’ sementara pasangan si subjek bakal bilang ‘si akang, ganteng bener yeuh””

    Gua juga setuju dengan pendapat kontruktivisme ini, bahwa tiap individu menafsirkan sesuatu berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang terbentuk secara sosial di lingkungannya. Tiap individu memiliki realitas yang berbeda. Jika diterapkan dalam pemaknaan foto, tiap orang pasti memiliki makna sendiri untuk foto yang dilihatnya, walau pun si pemotret memaksakan interpretasi/pemaknaan dengan membubuhi teks misalnya.

    Tapi masalah foto itu menampilkan realitas atau bukan kayaknya itu juga tergantung si viewernya deh, apakah dia mau melihatnya sbagai suatu dokumentasi (fotokopi dari realitas) atau sebagai sesuatu yang bisa diada-ada, diluar realitasnya.

    Jadi inget kata mas bro Victor minggu lalu, seabstrak-abstraknya foto pasti berwujud dan pernah terjadi.

    CMIIW

  • wah si yoyok konsepnya misterius nih artikelnya pake bersambung segala, setuju setuju, tapi apa hanya sebatas itu? apa kita tidak perlu mengkomunikasikannya (berusaha) ,apakah kita tidak mau berbagi yang kita lihat dalam frame kotak tersebut ke teman2 (audience) , apa memang tai anjing bertujuan untuk membuat chaos dimana mana? (biar nyambungnya lebi seru)

  • osu! mantab benar.

    tapi jangan dijadiin tradisi untuk mencari/memaksa, relax aja tutup mata rasakan sendiri. sambil dalem hati bilang “saya tau kita tau..”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *