Interview Dengan Karolus Naga

01naga

Street Photography lahir diawal abad 20 ketika terjadi revolusi tekhnologi dibidang fotografi. Sejak ditemukannya kamera dalam bentuk yang lebih kecil, mudah dibawa kemana-mana, terjadilah euphoria manusia untuk memotret dijalanan. Secara etimologi Street Photography berarti kegiatan fotografi (melukis dengan cahaya) yang dilakukan di jalanan. Apakah semua hasil karya fotografi yang dilakukan di jalanan bisa disebut karya Street Photography ? Unposed telah menjawab pertanyaan ini melalui artikel, hasil interview ke pelaku street photography, diskusi maupun foto-foto (meski tidak semuanya) yang telah diunggah di web tercinta ini. Berikut ini hasil wawancara saya dengan Karolus Naga (salah satu pelaku street photography di tanah air), semoga sharing kecil ini bermanfaat bagi kita semua.

1. Bisa bantu menjelaskan, siapa sih Karolus Naga itu (saya memanggilnya Akang) ?

Pemuda kelahiran Ende – Flores yang merantau ke Jogjakarta dalam misi “demi pendidikan yang mencerdaskan”. Saat ini sebagai fotografer lepas, berfokus pada documentary photography .

2. Sejak kapan Akang tertarik dengan Street Photography (SP) dan tahu darimana awalnya ?

Saya mengenal istilah street photography untuk pertama kalinya mungkin pada 2002, waktu itu saya ikutan klub fotografi kampus yang dinamai FJK – di Fisip UAJY. Banyak bacaan gratis yang disediakan disana, iseng-isneg buka untuk mencoba mempelajari tentang documentary dan ketemu dengan istilah street photography.

3. Akang merupakan salah satu orang yang menginspirasi saya utk menjadi “tergila-gila” dengan SP, bahkan konsistensi Akang utk berkarya lewat tampilan BW di FN (fotografer.net ; salah satu situs fotografi di Indonesia) membuat saya lebih penasaran untuk mengenal lebih jauh tentang diri Akang. Salah satunya “foto sederhana” namun penuh imaginasi ini. Apakah ada maksud tertentu untuk menampilkan visual secara BW ?

 

Hmmm BW, diawal saya memotret saya menggunakan film warna, saya suka dengan warna warna yang dominan, maksud saya ketika satu frame didominasi dengan satu warna sampai 2/3 bagiannya ; langit biru, mawar merah dan sebagainya. Namun pada akhirnya saya hanya terjebak disana, maksud saya untuk fotografi saya pribadi hanya sampai pada eksplorasi warna. Dari sana saya mencoba mempelajari foto-foto di majalah dan mencoba mencermati secara khusus elemen warna yang disajikan oleh fotografernya. Saya akhirnya menemukan bahwa tidak gampang untuk bisa memotret satu scene dengan format warna. Harus benar-benar dipikirkan komposisinya sebelum akhirnya saya putus asa karena tidak pernah bisa belajar dengan cepat untuk bermain dengan warna.

Sampai akhirnya seorang teman dan mentor saya, memperkenalkan darkroom dan film hitam putih. Saya mempelajari teknik cuci dan cetak namun hanya sebentar saja, sekitar tahun 2002 – 2004. Pada akhirnya saya kembali terjebak dalam hal serupa, sebagaimana yang pernah saya alami ketika mempelajari foto berwarna, saya terjebak dalah hal sama – terpaku dengan persolan mencari grey yang tepat. Terus terang itu sangat membosankan … bahkan hingga sekarang.

Kalau ditanya apa ada maksud tertentu, saya rasa tidak ada … sejauh yang saya alami. Foto-foto BW yang saya hasilkan hanya dengan alasan – mengeleminasi – warna yang saya tidak kuasai dan ini adalah satu hal yang menjadi kekurangan saya, saya pikir seorang fotogarfer harus bisa memotret warna sebaik hitam putih dan sebaliknya.

Beberapa orang mungkin akan bilang BW itu simple, atau lebih fokus pada konten ketimbang kemasan, ada yang mungkin bilang BW lebih otoriter – dalam kaitan dengan pembacaan oleh penikmat foto/khalayak dll, namun buat saya pribadi foto-foto BW yang saya hasilkan adalah titik nyaman saya pribadi dalam fotogarfi. Saya nyaman dengan BW walau beberapa editor atau redaktur tidak “nyaman” dengan hal ini.

4. Saat ini kan Akang lebih konsen ke documentary, namun saya masih bisa menikmati sentuhan SP pada beberapa karya Akang. Kalau boleh tahu karya Street Photography Akang yang dianggap paling berkesan/berhasil/luar biasa ……yg mana ? bahasa kerennya “Paporit” !

Waduh aku malah bingung kalau udah ditanya begini. Ada 2 foto sebenarnya ; pertama yang difoto di Siem Reap – Kamboja (petugas kebersihan taman kota narik selang dengan patung gajah di sampingnya) dan Foto Hantu Pocong.

 

Waktu itu (untuk foto gajah) sedang jalan-jalan ke Siem Reap, seperti kebanyakan turis saya keliling kota bawa kamera ajak seorang teman, Doni Maulistya. Kami bertemu dengan salah satu pekerja dan mengajak ngobrol. Kemudian scene ini tersaji di depan mata, hanya sebentar saja. Foto ini lucu buat saya, kesannya dia melakukan hal yang mustahil’ (narik patung gajah). Lah gajah beneran saja susah setengah mampus, ini malah patungnya.

Foto hantu pocong difoto belum lama, untuk sebuah majalah traveling. Emang traveling ke dunia gaib ? bercanda. Berawal dari demonstrasi untuk menolak “Politisi Busuk” dengan berdiri selama 36 jam yang dilakukan di salah satu pinggir jalan Jogjakarta. Keberadaan seseorang dengan atribut layaknya orang yg meninggal, besi pembatas trotoar, kendaraan yang lewat dan spanduk di seberang jalan membuat beraneka ragam imaginasi yang muncul.

 

5. Rekan-rekan pelaku street fotografi di Indonesia, untuk saat ini sedikit banyak terpengaruh dengan referensi dari Barat. Dimana “panggung” dan ide yg digunakan mirip – mirip dengan referensi ; tak terkecuali saya. Kalau boleh saya berpendapat, banyak karya Akang yg “panggung”nya menggunakan barang lokal, simple, bermain gesture……sangat mudah dicerna oleh mata saya yg Ndeso ini.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara “meliarkan” imaginasi kita untuk tetap berkarya melalui SP dengan “panggung” Ndeso ini ?

 

Kalau ngomongin referensi , ini penting untuk belajar. Dalam artian kita belajar dari mana saja ; buku, pameran, website. Bahkan dari hal-hal yang diluar fotogarfi khususnya produk seni visual ; lukisan, patung, instalasi dsb. Saya pribadi sangat tergila gila dengan karya Gustave Dore, ini tidak ada salahnya, entah mau belajar dari barat atau timur, semakin lama semakin terpacu, semacam terobsesi untuk bisa menghasilkan “seperti yang dipelajari/dilihat” .

Saya sendiri juga sering menghasilkan frame yang “copy paste” dari apa yang sudah dipraktekan oleh orang luar. Saya bilang copy paste atau lebih simpelnya fotokopi namun pada akhirnya kita hanya bisa dibilang – wah si ini banget, atau si itu banget. Salgado banget, Nacthwey banget, Smith banget, Oscar Motuloh banget, dsb.

Pertanyaanya adalah apa mau saya sebagai fotogarfer hanya dikenal sebagai tukang foto kopi ? toh pada prakteknya ketika keluar untuk sekedar ngilangin jenuh dan memotret – yang sering teman- teman bilang “nyetrit” ketika membawa referensi atau pendeknya ‘ingin bikin seperti ini’ dan ketika di lokasi berbeda 180 derajat sehingga yang didapat hanya rasa frustrasi.

Depresi karena toh ga bisa dapat gambar bagus sebagus yag dilihat di link bookmark semalam, ini bahaya menurut saya. Ketika sampai di lokasi satu scene yang ingin difoto, saya mengusahakan untuk sewajarnya, ‘sewajarnya’ yang saya maksudkan disini berkaitan dengan alam bawah sadar yang dibentuk dari referensi referensi tadi, keep it simple !

Imajinasi menurut saya soal bagaimana kita membingkai scene dalam viefinder ?, bagaimana nanti hasil akhir ? Apa yang mau difoto ? kita sudah menseleksi yang tidak perlu dan perlu saat menaruh mata di viewfinder. Dari sana tinggal menentukan cahaya yang masuk, menunggu ; apa yang dibilang sama Bresson decisive moment’ dan klik. Saya kira itu saja .

 

6. Berkaitan dengan “menaruh mata di viewfinder”, menurut Akang sejauh mana sih peran post process terhadap hasil akhir sebuah karya Street Photo itu (misalnya croping, masking, betulin exposure dll) dimana saat ini lebih mudah dilakukan di era digital ?

Selama ini saya masih percaya sama aturan dasar ; burning, croping, dodging, color correction, dll. Hal yang standar aturan World Press Photo (WPP).

Apalagi street photography, kalau tidak salah, mohon koreksi kalau saya salah. Kaum puritan dalam street photo sangat mengharamkan cropping ; saya tidak tahu alasanya namun beberapa orang percaya bahwa apa yang terekam di filmnya adalah hal yang utuh, dan berharga .

Kalau soal sejauh mana bisa dilakukan post proses, saya kembalikan ke masing-masing. Apa mau menghabiskan waktu untuk benerin kontras dan cahaya di lab/komputer atau benerin ketika motret ?

 

7. Selama ini hasil karya Street Photograhpy lebih banyak dinikmati sebagai single photo, bagaimana menurut Akang ?

Tidak juga, single dan series (essay, story, seri) inikan pembagian cara bertutur, yang sesuai dengan kepentingan. Ketika ingin berkisah secara naratif – single foto tidak mungkin bisa dijadikan metodenya. Tentu SP bisa dinikmati secara series kalau meminjam istilahnya Deny Salman – foto jamak.

Ketika ingin bercerita misalnya tentang kehidupan masyarakat dalam satu lokasi, pendekatan yang digunakan bisa jadi documentary, portrait, journalistic, bahkan street . Bahkan saya lebih bisa menikmati satu series street lebih dari satu foto street .

Beberapa waktu lalu Eric Prasetya menerbitkan buku karyanya. Beberapa fotonya sangat kental street photographynya ketimbang documentary. Atau project seorang senior Roy Rubianto ‘golden triangle’ didalamnya terdapat banyak foto yang sangat indah tentang Jakarta.

Saya lebih bisa menikmati kumpulan foto yang berbisik soal sesuatu – ketimbang satu foto yang berteriak tentang hal yang sama. Pada beberapa kesempatan diskusi, seorang teman bertanya – bukannya ini documentary – bukan street ? buat saya itu masalah kategorisasi. Documentary ingin ‘menyampaikan dunia dan membuat orang berpikir tentang dunia, isinya komen/pendapat fotogarfer’ namun documentary menyisahkan satu spot bagi “penyakit” saya bilang penyakit – yang terus menghantuinya – (kesadaran yang dibangun karena ada didepan lensa) – dan street photo menjawab ini, mengsisi lubang ini.

 

8. Mohon masukan bagaimana cara kita untuk lebih mengenalkan Street Photography di Tanah Air ?

Wah kalau soal ini sih kayaknya saya kurang kompeten kalau mau ditanya… unposed sudah mempelopori gerakan ini, memperkenalkan dan mengembangkan. Saya kurang yakin akan hal terakhir tapi saya pribadi banyak belajar dari galeri yang ada di unposed. Sebagian bagus, sebagian luar biasa, sebagian biasa saja bahkan sebagian membosankan. Maaf kalau agak vulgar, dan terus terang ; kumpulan kayak unposed mungkin punya misi sebagai tempat bernaung – bahkan sempat pameran dan selamat buat mereka dan semua membernya.

Street photographer punya kecenderungan ‘underground’ yang entah kenapa saya sangat benci hal ini … kadang suka ekslusif !!! Bahkan lebih parah lagi cenderung “anti” dengan genre atau kelompok lain, ini hal yang buruk.

Saya tidak bermaksud untuk bilang kalau underground dan sok ekslusif itu buruk tapi jauh- jauh dari hal ini … apalagi street photographer yang nota bene adalah orang paling sering untuk ada di tengah manusia. Indonesia hanya bagian kecil dari dunia, ada banyak bagian di dunia ini yang bisa dimasuki untuk mengenalkan street photo. Kalau medianya mungkin pameran, festival, lomba dsb yang bisa dipakai untuk lebih mengenalkan street photo di dalam atau luar negeri.

Saya salut sama unposed dan web semacamnya yang mencoba untuk mengakomodir kalangan ‘sudra’ fotografi ke level yang lebih tinggi. Butuh dukungan serta upaya yang keras untuk bisa mencapai seperti apa yang dilakukan inPublic atau pendahulu lainya di luar negeri. Itu butuh kerjasama semua orang, tidak hanya ‘teman hunting’ .

Terima kasih banyak atas waktu dan kesempatan yang diberikan, semoga sharing ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Karya-karya lain Karolus Naga bisa dinikmati di blognya (www.theauthorisdead.blogspot.com)

Share Button
Written By

bukan siapa-siapa

6 Comments

  • ini interviewernya ngelawak hahahhaha. keren mas boljug.!

    saya juga sangat setuju dengan bait terakhir yg menyinggung ke eksklusifan underground, mari kita go underground tapi tetap ramah dan senyum

  • ah..ketertarikan saya kepada karolus naga.pada acara jogja street shot 2010.ketika melihat seorang pria dengan folding kameranya.kemudian saya mencari dan menikmati hasil karya beliau.terjebak pada suatu street photography dan terdampar disini..terima kasih unposed.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *