Wawancara Unposed Ichwan Susanto

4

Foto-foto Street tidak mudah dinikmati/disukai secara instant, terutama bagi yang baru mengenal fotografi. Tidak banyak foto-foto street yang eye-catching bagi yang belum pernah mengenal apa itu street photography sebelumnya. Hal inilah yang saya rasakan waktu pertama kali mencoba belajar fotografi, sampai kemudian saya menemukan gallery Ichwan Susanto di Fotografer.net.

AS: selamat malem mas.. D .ok mas, mari kita mulai ya… pertanyaan standar.. kapan mulai tertarik fotografi dan mengapa?
IS: tertarik fotografi sejak kecil sih (SD), tapi karena alasan ekonomi…hasrat tersebut tidak bisa aku laksanakan setiap waktu, nunggu kakak ipar datang….diam-diam nyuri beberapa frame dari camera dia. baru bisa beli camera ketika kuliah sekitar thn 1996-1997

AS : apa yang menarik dari fotografi waktu sampeyan kecil? alesanya?
IS : waktu kecil sih tertarik karena seneng aja….seolah-olah jadi wartawan sungguhan. sejak awal beli camera…pingin motretin orang gila yang ada dijalanan. sederhana aja sih, aku nggak ingin gila seperti mereka……..selain itu agar lebih pandai bersyukur pada perkembangannya aku membawa misi pribadi [project pribadi] untuk menghimbau/mengajak masyarakat utk lebih peduli masa saudara kita tsb

AS : pertama kali emang langsung tertarik motret semacam dokumentasi orang dan lingkungan sekitar ya berarti?
IS : betul…..dari awal beli camera (poket analog 1996-1997)….kemudian tertarik motret dijalanan…..sampai akhirnya thn 2007 ketemu Om Ben melalui FN. dari dia aku kenal street fotografi hobbanyaku yang motret dijalanan….semakin membabi buta karena ketemu si Gundul (Benny Nur Susanto-red)

AS : lalu apa yang ada dipikiran mas ichwan tentang street fotografi waktu itu?
IS : awalnya juga sederhana….semua foto yang dihasilkan dijalanan. lambat laun karena sering jalan bareng dan sharing masa Om Ben…..mulai banyak wawasan tentang street fotografi

AS : kemudian pada perkembangannya sampai sekarang, apa yang dapat mas ichwan simpulkan/definisikan tentang Street Photography?
IS : sampai saat inipun aku blm bisa menemukan definisi yang pasti tentang street fotografi….karena didalam STREET PHOTOGRAPHY itu sendiri beraneka macam style yang aku temukan, termasuk style-style fotomu di Papua meskipun demikian ada beberapa kata kunci yang jadi peganganku utk mendefinisikan STREET PHOTOGRAPHY
1. lokasi di ruang public
2. unposed
3. merekam realitas kehidupan manusia dari sisi lain
utk point ketiga inilah yang multiple interprestasi dan memberikan style pada sang fotografer.sementara guidance itu yang aku pegang

AS : apa yang menarik dari STREET PHOTOGRAPHY? yang membuat mas ichwan semangat motret terus?
IS : STREET PHOTOGRAPHY membuat aku tidak cepat pikun karena ketika berada di suatu tempat {entah bawa camera atau tidak} .. mata dan pikiran kita terus bekerja , bedanya jika pegang camera….hasil sinkronisasi mata, otak dan hati …dilanjutan ke jari telunjuk utk mencet shutter akhirnya aku bisa lebih reaktif akan lingkungan sekitar. susah menjelaskannya…….karena terlalu banyak hal yang menarik di STREET PHOTOGRAPHY…..intinya ya biar nggak cepat pikun

AS: dan tetap sehat dengan jalan kaki minimal seminggu sekali yak?
IS: itu efek samping yang aku harapkan…karena kesibukan kerja membuat aku kurang bisa mengalokasikan waktu utk olahraga

AS: ok mas, sekarang ke foto2nya mas. aku penasaran dengan proses terjadinya foto ini, bisa dijelaskan..
AS : http://www.fotografer.net/isi/galeri/lihat.php?id=860864


IS: ha ha ha
itu benar-benar lucky shot seperti yang aku bilang tadi…..kadang hal inilah yang membuat aku keranjingan. tak terprediksi, saat itu aku tertarik dengan anak muda yang duduk didepan etalase sebuah toko aku lihat lebih jauh….ada sosok wanita yang akan lewat aku memprediksi tentang hasrat kelelakian anak muda itu jika melintas seorang cewek tua apakah matanya akan mengikuti arah jalan si cewek tua atau tidak, dengan menghitung bbrp langkah si ibu….seketika aku membalikan badan dan menjepretnya lah dalah…. hasilnya tak sesuai prediksiku

AS : “membalikan badan”? maksudnya gmn mas? jadi sebelum motret, mas ichwan g menghadap ke arah mereka?
IS : karena aku nggak ingin perhatian si anak muda ke aku…..maka aku membelakanginya…..dan mengira-ngira langkah si ibu telah mendekat ke anak muda. foto-foto streetku nggak ada yang tak crop masa sekali jadi mau miring atau bocor….ya tak tampilin apa adanya awalnya menjawab tantangan Om Ben utk belajar crop dari view finder

AS : metode membalikan badan itu ilmu baru buat aku..
IS : kayak hal yang mustahil…..tapi ternyata hal tersebut benar-benar bisa kita lakukan kalau kita banyak berlatih

AS: Sekarang tolong ceritain tentang foto “the conductor” mas.. foto ini salah satu foto yang bikin aku pengen lebih mengenal foto street waktu dulu..

http://www.fotografer.net/isi/galeri/lihat.php?id=644166

IS: foto the conductor merupakan foto streetku yang tak anggap berhasil. bermula hunting bermasa 4 rekan di sekitar alun-alun kota, awalnya aku tertarik dgn grafitinya masbil bawa kursi lipat dan 2 botol aqua aku tongkrongin karena lalu lintas disitu tergolong padat banget jadi mesti sabar berpanas-panasan utk nunggu sesuatu yang lewat plus disaat kendaraan kosong, setelah 2 botol aquaku habis…….aku putus asa……dan berpindah tempat, baru 10 meter pindah……mendadak ada seorang tunanetra lewat dari arah kiri frame, dia pakai kacamata hitam ….bawa tongkat dan tangan satunya pegang tembok tsb. tapi ya gitu……moment itu terlewatkan begitu saja karena aku nggak nututi ke tempat semuala . itulah awal hancurnya hatiku kehilangan moment emas karena ketidaksabaranku.Om Ben waktu itu juga bilang”serasa kehilangan koin emas sekarung” .
Akhirnya aku nyebrang jalan ke arah toko buku gramedia….. didepan toko buku gramedia aku berpapasan dgn org tunanetra yang lain, pada saat itu yang terbersit adalah utk membantunya menyebrang jalan. maka aku tawari…”Pak…sini aku bantu nyebrang”. orang tersebut jawab”terima kasih….aku tidak nyebrang kok, aku mau lewat pinggiran tembok saja…terima kasih” mendengar jawabannya….aku jadi teriingat moment yang terlewatkan 10 mnt yang lalu, tanpa babibu….aku langsung nyebrang utk ambil posisi di seberang grafiti, karena terlalu semangat…hampir aja aku tertabrak mobil kijang, Om Ben maspai teriak ”AWASSSSS JUGGGG…!!”. beberapa saat aku sudah jongkok diseberang grafiti sambil berharap lalu lintas tidak menutup moment tersebut, alhasil……4 kali shutterku tak pencet…..ada 3 frame yang bersih dan 1 frame yang bocor sepeda mototr dan mikrolet
itu betul-betul awal aku mendapatkan frame STREET PHOTOGRAPHY yang kuanggap betul-betul “berhasil”

AS : Yap, bagi aku yang baru kenal foto waktu itu, foto ini sangat inspiratif di tengah foto2 lansdcape,model dan makro..
IS : Om Ben sangat berpengaruh dalam perkembangan STREET PHOTOGRAPHYku…..karena dia org tersekat yang bisa aku ajak hunting dan sharing, selain masukan dan hasil share dari rekan-rekan di FN
ide awal dari foto itu simple kok, the conductor..identik memimpin orang lain menggunakan tongkat. sedangkan tunanetra tersebut menjadi conductor buat dirinya sendiri lewat tongkatnya. belum lagi tulisan di tembok yang pakai bhs inggris itu…”tidak semua dari kita terlahir utk jadi pemimpin”

AS : Dan, seperti jg foto ini, salah satu karakter foto2 STREET PHOTOGRAPHY mas ichwan mnrtku sangat eye catching, berkualitas tapi mudah dinikmati bagi banyak orang.. Dan mencari foto kayak gini g mudah menurut aku.. Bgmn pendapat mas, apa yang mas lihat dari foto2 mas sendiri sbg ciri khasnya?
IS: mungkin kamu nggak percaya aku itu malas baca….apalagi kalau bahasa inggris jadi kalau ada buku fotografi…paling yang tak lihat fotonya aja aku sering praktek tanpa tahu teori ataupun contoh-contoh foto sudah jadi…….baru tahu teorinya….oooo tenyata foto ini kayak gaya si a, si B, yang mainan gelap terang, mainan ini itu…dan bla bla bla

AS: Tp mas ichwan sendiri sengaja g membentuk foto2nya kayak gitu?
IS : nggak sengaja….. karena moment dilapangan begitu cepatnya yang tak (aku) inginkan hanya menangkap moment tersebut dan mewujudkan dalam frame yang sesempurna mungkin, tanpa harus croping pasca motret…ataupun benerin horisontal yang miring, jadi ketika motret…..yang tak rasakan adalah kerja mata, hati, otak, dan jari telunjuk utk membentuk suatu imaginasiku yang terlintas begitu aja. sekali lagi…aku ini malas membaca……lebih baik banyak praktek (motret)

IS : oh iyaaa…kalau kamu tanya fotografer siapa yang jadi favoritku…..hal itu baru kutemukan blm sebulan yang lalu
IS : …akhirnya aku coba lihat galery alex webb………WOW….ternyata foto alex sangat memukauku
IS : intinya Alex itu org yang konsisten akan hal-hal yang mnrt bagus dan dia anut

AS : Pertanyaan terakhir, foto street adalah foto di area public, menurut anda, bagaimana kita menempatkan diri terhadap obyek foto kita? Terutama masalah privasi dan menghindari konflik dgn obyek foto kita?
http://www.fotografer.net/isi/galeri/lihat.php?id=1005096
IS : hmmmmm….kali ini pertanyaanmu bikin puyeng
pertama ….mengenai cara penempatan diri ; ketika berada dilokasi, segera siapkan gear plus settingan sesuai lighting saat itu ….. mata penuh selidik terhadap sekitar diiringi otak yang memeras ide sembari telunjuk siap diatas tombol rana. Sesekali mengumbar senyum terhadap orang yang sekiranya matanya penuh selidik terhadap kita….bahkan tak jarang aku harus menjawab bbrp pertanyaan mereka
Saat semua itu kulakukan..biasanya tiba-tiba ada moment yang melintas di depan mata dan seketika itu juga ide utk framing juga muncul.
Intinya…..kita menempatkan diri diantara calon subyek yang akan kita foto berusaha tidak ada mengganggu irama / ritme yang telah ada disekitar kita. Bahkan kadang aku mesti menyembunyikan camera [camera sak gaban] jika dirasa kerumunan subyek blm terbiasa lihat camera yang dikira alat shooting
Biasanya jika moment yang aku tangkap datang begitu cepat dan membutuhkan reaksi yang cepat juga……maka tidak ada komplain dari subyek…..karena saat yang bermasaan subyek mungkin kaget atau apalah…sehingga mau protes atau sejenisnya sudah tidak terpikirkan lagi
Kadang juga subyek sengaja aku “tipu”…..karena kaget atau apa…mereka akan protes, kalau hal itu terjadi biasanya aku tidak akan menurunkan camera dari mata aku…aku akan tetep mengarahkan camera ke area sekitar mereka…seolah-olah aku tidak motret mereka.
kedua….masalah privasi
selama motret street….aku rasa privasi tidak menjadi hal yang utama dan harus dipertentangkan. karena mereka berada di ruang publik….maka sah-sah aja kita motret mereka.
Justru privasi semacam itu sering aku junjung tinggi jika aku motret dokumenter dan berada di area privat seseorang. pasti aku akan ijin dulu Rif dan mengikuti aturan main daerah setempat
http://www.fotografer.net/isi/galeri/lihat.php?id=1005096

AS : Pernah dapat komplain atau masalah gr2 motret mas?
IS : Alhamdulillah….sampai sekarang aku minim sekali di komplain oleh subyek yang aku foto, baik ketika membuat dokumenter di ruang publik maupun foto street. Aku juga nggak tahu kenapa begitu….atau karena adat istiadat di Jawa itu lebih wellcome thd orang yang dianggap asing ? atau karena aku yang kelihatan kyk orang gila yang suka senyum-senyum

IS : kalau Om Ben bilang…….terapkan ilmu invisible man

AS: Mau invisible gimana kalo satu pasar ngerumunin..
IS : salah tafsir dirimu.. jadi gini……invisible man tidak harus tidak terlihat oleh kerumunan massa sehingga kita harus menyembunyikan camera maupun muka sehingga pada akhirnya kita tidak merusak skenario ditempat tersebut
Justru teori invisible man yang diterapkan Om Ben dan Mas Ekki Kaharudin sbb :
mereka berdua kurang bisa berkomunikasi dengan subyek……maka langkah yang ditempuh yaitu mereka bakal membawa camera tanpa menjepret satu framepun ditempat tsb……dilakukan secara berulang-ulang maspai orang yang berada disekitar lokasi hafal.
Ketika sekian kalinya dia menampakkan diri…..maka orang-orang akan menganggap hal biasa….”ah orang botak bertopi yang bawa camera memang tiap siang berdiri disitu”…….nah kketika pemikiran tsb muncul di mereka…..saat itulah dirimu menjadi invisible man

IS : karena lingkungan sudah tidak acuh lagi padamu
http://www.fotografer.net/isi/galeri/lihat.php?id=1006044

AS : G kepikiran metode ini sebelumnya.. 😀
IS : biasanya kalau aku bertemu dgn orang-orang yang asing dan kelihatan sangar…..aku akan memujinya dulu
misal….kita panggil BOS, hai BOS…..gimana kabarnya…masbil nawarin rokok, padahal aku bukan perokok

AS : Jadi bawa rokok sebagai bahan kontak gitu ya?
IS : ya iyalah…..di tas cameraku selalu ada rokok masa korek, jaga-jaga kalau mata ini jatuh hati masa preman pasar atau preman jalanan

Foto-foto Ichwan susanto lainya bisa dilihat di Fotografer.net (http://www.fotografer.net/isi/personal/index.php?id=105424), dan multiply (http://boljugeyesight.multiply.com/)

Share Button

16 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *