Unposed Exhibition + Launching to public

Rencana besarnya tahun depan unposed akan launching dan go to public.

konsep sementara adalah pameran dan diskusi ,pengenalan web, pengenalan street fotografi, jumpa pers dan lain lain.

target adalah masyarakat dan fotografer seluruh negeri ..mungkin ada yang mau beri masukan, tempat , acara dan sebagainya , sekalian rilis baju unposed kali ya..dimohon masukannya disini kawan kawan, dan mendaftar relawan untuk sama sama membangun acara ini .

insyaalah kita bisa membangkitkan dokumenter/street fotografi indonesia dan menyebarkan tujuan mulia dari street fotografi

“kapal besar ini telah berlayar , tapi perlu kita nahkodai dengan pelaut pelaut handal”

maju terus anpos!

Share Button

34 Comments

  • @victor: hmmm klo image-nya mau street, di pinggir jalanan dong berarti pamerannya… :p trus klo mau ada tempat nongkrong yg ada rokok, kopi, dan alkohol… berarti depan circle k cucok tuh kayanya… 😀

    @ivan: iya nih van, kapan kopdar? minimal buat yg jakarta aja dulu… soal arisan YM kemaren, tanya rivo deh… gue ga ikut sampe abis, udah diusir ama OB di kantor, mau dikunci kantornya… lagian kemaren jg sempet error lagi kayanya…

  • Menurut gua sih, lokasi pameran bakal berpengaruh terhadap pencitraan. Salihara atau TIM = Seni Rupa.
    GFAJ = Jurnalistik/Dokumentasi Sosial.

    Anyway, sebaiknya cari lokasi yang ada kafe/warung-nya. Jadi, acara pameran bisa jadi ajang nongkrong sampe’ subuh. Kopi dan rokok, Oke. Alkohol juga nggak masalah.

  • arisan YM kemaren sore kacau… gatau karena YM-nya error ato gimana…

    tp kemaren ada masukan baru dari ivan:
    jadi buat pameran ntar, setiap unposer memilih/mengkurasi sendiri karya-nya, masing2 unposer submit 2 karya-nya yang terbaik… karena menurut ivan, foto street itu mempunyai keterikatan emosional dan cerita dengan setiap personal fotografernya sendiri… toh tujuan kita pameran adalah memperkenalkan unposed ke masyarakat, nunjukin kalau di indonesia juga ada anak2 yg moto street, dan nunjukin indahnya arti kehidupan manusia di indonesia, ga cuman miskin2nya aja…

    transkrip selengkapnya bisa dilihat di groups/milis yak…

  • bang rivo, itu udah saya bikinin groups di google groups… (alamatnya sudah saya post di talk) tp sampe saat ini membernya baru 4 orang… 😛 buat temen2 yang lain belum gabung, silahkan gabung saja… buat bang rivo, klo boleh ngasih saran, klo misalnya milis/group ini sudah jalan, mungkin archive notulensi hasil ngobrol2 di arisan YM bisa diposting di milis, jd temen2 unposer yg berhalangan ga ikut arisan YM bisa tahu hasilnya dan bisa ngasih komentar/saran/masukan…

    maju terus, unposed!!!

  • Mas Boljug, terimakasih untuk informasinya semoga bisa ditindak lanjuti oleh rekan-rekan yang lain. Soal arisan YM kebetulan itu inisiatif saya, biasanya dilakukan sore hari di akhir pekan kamis/jumat tunggu saja undangannya 🙂
    Tentu banyak yang sudah lebih dulu mengenal street photography, mereka tentunya sudah lebih banyak pengalamannya. Pasti banyak yang dapat kita gali dari mereka, conference YM minggu lalu kita sempet ngobrol juga dengan Pak Igor F Firdauzi. Mudah-mudahan dengan adanya wadah di unposed ini dapat juga mempertemukan photographer lain dengan kesamaan minat ini.

    Saya sepakat untuk “memantapkan internal”. Karena sebagian dari kita baru saling mengenal dan diperlukanya kesamaan visi. Semoga diskusi yang berlangsung dapat menghasilkan kebaikan untuk unposed dan street photography di negri ini

  • mohon maaf jika belum setor YM : ichwanto_boljug

    Perihal pameran, sebetulnya banyak link yang bisa bantu kita dalam hal ini asalkan dari internal kita sudah mantap. Dalam artian tujuan apa yang akan dicapai, bahan yg akan digunakan dan bla bla bla yang lain.

    Kemarin sempat ngobrol dengan salah satu pendiri mamipo, ternyata di negeri kita ini sudah ada pelopor street photography (Erik Prasetya)dan dulu sempat exis dengan nama KLIK. Namun karya-karya mereka belum publish melalui dunia maya. Sempat melihat beberapa karyanya dalam bentuk buku…..saya dan Om Ben sempat ternganga.

    Kembali ke soal pameran, memang seharusnya ada Kurator untuk mengkurasi foto-foto tersebut. Kuratorlah yg menentukan foto-foto mana yg akan ditampilkan beserta lay out pamerannya. Biasanya pameran foto disertai dengan Katalog sebagai “pertanda” dari kegiatan tersebut (bisa dibagi gratis atau dijual). Katalog ini sekalian mejawab keinginan rekan-rekan untuk menerbitkan buku. Ada beberapa kurator yang saya kenal selain Oscar Motuloh, ada Edi Purnomo dan Deny Shalman.

    Menanggapi masalah “musuh” saya rasa tidak perlu diributkan, kita mantapkan dulu internal kita perihal tujuan, bahan dll. Jika acara yang kita gelar dengan penuh persiapan dan akhirnya menggelegar…saya rasa “kawan” dan “musuh” akan datang sendirinya.

    Perihal tempat pameran di GFJA mungkin teman-teman di Jakarta bisa kontak Rony Zakaria (unposer)yg notabene alumni GFJA untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

    Maju terus !!

  • baru baca ulang komen2nya, kalo pun mau dibilang ‘musuh bersama’ atau mungkin lebih tepat adalah ‘exact opposite’ adalah HDR Photography, dimana yang satu adalah versi paling murni dari fotografi sementara yang lain adalah versi ‘artifisial’ dari fotografi.

    just my 2 cents

  • maap2 kmrn ga bisa arisan..

    info dong info.. kmrn siapa aja yang d ym?
    dan poinnya apa aja.?

    ada beberapa poin usul nih temen2.

    1.ditetepin secara pasti aja jam yang di tentukan di hari kamis dan jumat tersebut. pada bisa pasnya jam brp gt. 7 kah? apa jam 9? jadi rapat pameran unposed secara berkala

    2.kita musti menentukan judul pameran teman2.

    3.yang paling penting adalah segala yang didiskusikan skrg adalah belum berupa KEPUTUSAN karena panitia juga blm ada.. takutnya sudah ada yg bergerak dan tanpa persetujuan yg lain itu cukup berbahaya.(kalau ancang2 doang tanya koneksi kiri kanan mah gpp)

    4. oh ya perhatian nyetor ym jgn disini! bisa di post ulang di “talk” ada yang bagian ym unposed teman2 hehehehe trimakasih

    pameran unposed semangat!

  • untuk GFJA, yg aku kenal udah pernah pameran disana adalah pakde boljug alias mas ichwan, temen dari om ben (tergabung dalam Malang Miting Point), salah satu pelaku street photography yang aku kenal
    mungkin bisa minta saran beliau..eh nyetor ym kemana ya ? :p

    suryogm@yahoo

  • Ok, arisan YM akan diadakan berkala sore di akhir minggu (Kamis/Jumat) untuk membahas rencana ini atau diskusi lainnya.
    Unposer yang belum setor YM silakan merapat 😀

  • aku setuju ama usulmu wid, klo mau pameran, sebaiknya dikurasi dulu dari pihak luar… dan mungkin kalo mau, hasil kurasi itu juga dikompilasi dalam bentuk buku… jadi mungkin nanti acaranya itu launching unposed.org, launching buku-nya, pameran, dan diskusi… (mungkin diskusinya mengulang diskusi di conference YM waktu itu… :-P)
    tapi klo mau sekalian launching buku, sepertinya butuh waktu juga untuk proses kurasi, desain layout, percetakan, dll (aku sih ga ngerti masalah publikasi-an gini, dulu cuman pernah bantuin bikin desain cover dan nge-layout buku doang, ga ngurusin cektak mencetak-nya)

  • Sebaiknya urusan “musuh bersama” tidak usaha dipusingkan. Jangan juga diada-adakan jika memang tidak ada. Tugas seniman cukup menegaskan hasrat dan “konsep” berkeseniannya.

    Jika kurator melihat ada benang merah dan kegelisahan yang sama, mereka akan menyimpulkan “musuh bersama”. Nah, jika kesimpulan itu dianggap menarik oleh media/jurnalis seni makan hal itu akan digaungkan lebih keras dan seandainya pengamat seni lainnya tergelitik boleh jadi polemik bisa berlangsung di meja seminar atau adu artikel.


    Pikir-pikir, itu flow masa lalu Di era internet, kenyataan bisa dibalik. Polemik dulu yang muncul (bisa di milis/blog/forum), kemudian mengeras menjadi “kegelisahan/musuh bersama”. Tereksekusi via pameran. 😛

  • Komentar-komentarnya Victor menarik… Aku juga sempet kepikiran soal kemungkinan membuat buku atau jurnal (terutama setelah tau soal Publication-nya Nick Turpin yang baru aja dirilis belum lama ini), tapi berhubung aku nggak tau apa² soal penerbitan, aku juga nggak tau harus mulai membahas dari mana.

    Soal perlunya “musuh bersama”, aku bisa ngerti arahnya dan kupikir itu dalam taraf tertentu ada benernya. Cuma yang jadi pikiranku, pengadaan kata “musuh” berkonsekuensi bahwa kita akan “berperang” atau setidaknya “berjuang” melawan sesuatu. Dan yg namanya perang pasti butuh persiapan. Nah, apakah kita yakin kita sudah siap? Maksudku, aku pribadi (dan aku yakin kebanyakan dari kita) belajar secara otodidak dan nggak punya latar belakang formal apapun tentang fotografi atau seni secara umum. Gerakan-gerakan yg disebutin Victor itu aja aku nggak tau itu apa. Dan seperti kata Krishna, siapa tepatnya “musuh” kita?

    Anyway, balik lagi ke soal rencana launching resmi Unposed. Taruhlah untuk sementara ini kita semua setuju untuk pembukaan kita akan mengadakan pameran dan diskusi. Untuk diskusi kurasa nggak akan ada banyak masalah, beberapa waktu yg lalu beberapa Unposer termasuk aku sempet conference di YM dan pada saat itu aja kita udah bisa menyampaikan beberapa poin² inti yg bisa jadi bahan diskusi. Sementara untuk pameran, ada isu soal tempat, jumlah foto yang ingin dipajang, dan kurator. Karena foto² yg akan dipajang adalah dari kita sendiri, kurasa kuratornya idealnya dari luar Unposed… kira-kira siapa yang bisa dimintai bantuan untuk mengkurasi? Aku berpikirnya mungkin yang paling masuk akal adalah dari kalangan jurnalistik, karena walaupun fotojurnalistik berbeda dengan street, tapi ia adalah genre yang paling dekat dengan street. Kalo mau pameran di Jakarta, bisa kerjasama dengan GFJA gitu nggak ya kira-kira? Kalo bisa dapet Oscar Motuloh sebagai pengkurasi kan mantep tuh. 😀 Dan mungkin GFJA sebagai lembaga yang udah berpengalaman dalam ngadain pameran dan sebagainya bisa kasih masukan² penting juga.

    Terus masalah waktu juga. Sejauh ini kita memproyeksikan tahun depan. Tapi kapan kira² tepatnya? Awal tahun, pertengahan tahun?

  • @victor: “musuh bersama” selalu bisa membuat suatu gerakan bisa menjadi lebih massive dan membuat ikatan suatu kelompok menjadi lebih kuat…
    tp musuh bersama street photographers apaan ya?

  • Entah seberapa besar antusias teman-teman dengan semangat “street photography”, tapi jika ingin gaungnya besar; harus ada polemik. Agar polemik muncul, jelas harus ada sikap dan “musuh bersama”.

    Acuan saya sih, polemik Gerakan Senirupa Baru (1978-1982) atau Pasca-modernisme (1991; dicetus oleh Jurnal Kalam dan Biennale). Kedua peristiwa ini seru untuk disimak.

  • mungkin yang lebih di fokuskan di launching anpos adalah pengenalan diskusi street dan website ini ke publik.. pameran mungkin adalah pendukung launching acaranya..

    sementara ide awalnya acara di lakukan di jakarta
    dengan acara tentang street fotografi dan website unposed sebagai rumah street fotografi indonesia. dan bla bla bla.
    pameran dari member2 unposed. ada sekitar 50 member. mungkin tidak bertema hanya singel foto untuk mendukung mengenalkan street fotografi kpd publik dan teman2 fotografer lainnya.

    mungkin ada perlu beberapa masukan dari kawan2 yang semangat

    1. apakah semua member berpameran?. adakah sistem kurasi dan sebagainya?
    2. kira kira 60 foto di pamerkan.. kebanyakan?
    3.usulan tempat di jakarta.. kenalan? ide bagus?

    senang sekali melihat respon dari teman2 tetap semangat terhadap perkembangan street fotografi di indonesia yang mendapat respon cukup positif dr teman2 lainnya. seperti rilis buku pertamanya unposed, baju dan sebagainya itu mungkin bisa di lakukan setelah kita launching websitenya dan pameran perdana.

    ditunggu masukannya..
    ide juga di tunggu di kolom talk tercinta ini..

  • Publikasi lewat buku lebih bertahan lama ketimbang pameran. Usaha yang dikeluarkan bisa sama tapi kalau buku bisa balik modal.Bahkan buku bisa berbekas maksudnya jadi sejarah (Street photographer angkatan 2010, hihihihi).

    Isi buku tidak melulu single-photo, tapi bisa juga photo-essay dan artikel. Kenapa opsi ini muncul? Kita tahu karya-karya foto jalanan tidak selalu mudah dicerna.

  • @ Ivan : siapp boss.. sudah submit tinggal di kurasi (semoga lolos)
    @ all : kopdar YM? jadi ketemuan semua trus ngobrol di YM dongg hehehe 🙂 🙂

  • Dalam format baku suatu pameran foto [bukan pamer foto] setahu saya [mohon koreksi jika salah] adalah :
    1.proses kurasi dari tema yg diangkat [dilakukan oleh ahlinya]
    2.lay out pameran
    3.jumpa pers {setelah acara pembukaan}
    4.diskusi foto
    5.katalog
    Saya mendukung rencana besar ini.

  • mungkin kita launching pameran dulu diskusi dll misalnya seminggu gt.. setelah it program selanjutnya mungkin baru workshop k kampus2? menurut lo gimana? iini ide kan masi mentah.. makanya di bawa ke forum siapa tau ada masukan2 yang brilian dari kawan2..
    foto yang di tampilin mungkin dari member unposed sendiri yang sudah lolos kurasi nara..makanya ayo aplod! hehehe

  • Konsepnya kurang lebih mau kyk gimana dulu van? kalo mau ke kampus-kampus gitu, yg kayak dulu gw sempat usulin.. gw bisa bantuin, gw ada temen di itb dan unpar yg punya interest yg sama. Jd paling tinggal bikin proposalnya gitu-gitu (tapi harus cepet gw sampe awal februari aja di jkt) 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *