Teknik fotomu SALAH

Apa si arti teknik itu? Menurut kamus besar bahasa Indonesia, teknik adalah ” 1 pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yg berkenaan dng hasil industri (bangunan, mesin): sekolah –; ahli –; 2 cara (kepandaian dsb) membuat atau melakukan sesuatu yg berhubungan dng seni; 3 metode atau sistem mengerjakan sesuatu ” Berarti di dalam fotografi, kita harus mengerti dengan yang namanya teknik, dikarenakan kamera merupakan hasil dari sebuah penciptaan industri, entah itu industri kecil maupun besar. Dan fotografi juga merupakan suatu karya seni maka dibutuhkan kepandaian untuk membuat atau menghasilkan sebuah foto. Teknik dapat dijadikan acuan dalam membuat suatu karya seni. Namun teknik ini selain harus dipahami, namun harus dimengerti juga penempatan dalam penggunaan teknik tersebut.

Anggap saja ini sebuah pemikiran orang yang biasa sering duduk-duduk dan melamun disebuah warung kopi pada pukul 02.00 dini hari. Yang mungkin memang tidak mengerti sama sekali yang namanya teknis. Jika anda mengerti teknis, tentu anda mengerti dengan istilah freeze dan panning. Freeze berfungsi untuk menghasilkan sebuah gambar bergerak menjadi berkesan diam. Kemudian saya mencoba berandai-andai, ada dua gelas berisi air putih, anggap saja gelas A dan gelas B, gelasnya itu pun berwarna bening. Dan saya ingin membuat suatu foto yang menceritakan strawberry baru saja memasuki gelas yang berisi air putih. Gelas A berisikan air putih dan sudah ada sebuah strawberry yang diam di dalamnya, kemudian saya mengabadikannya. Sedangkan gelas B, saya meminta seorang teman saya untuk melepaskan sebuah strawberry ke dalam gelas tersebut, kemudian ketika strawberry tersebut masuk ke dalam air dan membuat air di dalam gelas itu menjadi keluar dari gelas, saya mengabadikannya dengan mengikuti istilah freeze, sehingga menjadi sebuah gambar yang tajam dan jelas. Jika saya disuruh mendeskripsikannya, saya akan berkata : ” Gelas A adalah gelas yang berisi air putih dan sebuah strawberry, sedangkan gelas B adalah gelas yang baru saja dimasuki oleh strawberry sehingga air di dalam gelas tersebut menjadi keluar dikarenakan tekanan yang diberikan oleh strawberry pada saat masuk ke dalam air.” Menurut saya, orang akan lebih paham apa motif dari komunikasi saya pada foto ini, ketika saya melakukan teknik pada gelas B.

Demikian juga halnya dengan, bagaimana anda bisa membuat foto sebuah mobil formula 1 yang melaju kencang terlihat sangat kencang di dalam foto anda, jika anda hanya mengabadikan sebuah mobil formula 1 yang sedang melaju dilintasan dengan teknik-teknik yang ada dalam istilah freeze, tentu saja anda akan menceritakan dalam foto anda, mobil formula 1 yang sedang melaju kencang sekali dengan menggunakan teknik-teknik yang ada di dalam istilah panning. Sama dengan foto saya ini, bagaimana saya bisa bercerita bahwa seorang penjual nasi goreng ini sedang berjalan, jika saya mengabadikan penjual nasi goreng ini dengan hasil yang tajam atau tidak blur. Tentu saja saya akan memberikan kesan bergerak kepada penjual nasi goreng di dalam foto saya, dengan membuatnya blur.

Jadi kesimpulannya, memang dibutuhkan sebuah teknik dalam menghasilkan sebuah foto, namun yang lebih penting lagi adalah pemberian sebuah ‘nyawa’ dalam foto yang diciptakan, sehingga foto yang diabadikan, dapat membuat orang yang melihat berimajinasi melalui visual foto, dan juga dapat bersuara dan menjelaskan apa yang terjadi kepada orang-orang yang melihatnya, tentu saja semuanya dalam bahasa visual. Agar dapat memberikan ‘nyawa’ pada foto yang diabadikan, mungkin haruslah bersikap skeptis terhadap teori-teori yang ada di masyarakat dan mengkritisi teori-teori tersebut. Dan tidak ada yang salah dengan teknik foto, apabila foto tersebut masih dapat mengkomunikasikan bahasa visualnya, sehingga membuat penikmat foto dapat berimajinasi dan menerima isi pesan dari bahasa visual yang diberikan foto tersebut. Dan kesimpulan terakhir, saya tetaplah orang yang tidak mengerti teknik. hehehe.



23 Responses to “Teknik fotomu SALAH”

  1. sentothary says:

    …bertahun-tahun menyaksikan perdebatan antara teknik dan konsep…mana lebih penting…
    1. banyak fotografer profesional yang (pastinya) TEKNIK-nya mumpuni, namun saat berbicara tentang konten atau konsep atau isi sebuah foto kepada fotoggrafer muda atau calon fotografer atau hobiis, dia akan berkata “…kupakan teknis, eksplore saja…”
    nah yang terjadi adalah, ga ada satupun dari “anak didik” fotografer profesioanl tersebut menjadi “mumpuni” hingga menjadi satu level dengan mentornya…hal ini terjadi karena apa ?

    2. JARANGNYA atau SEDIKIT SEKALI fotografer indonesia yang mendunia lewat karya-karya fotonya kecuali dalam kategori HOT/SPOT NEWS. Setelah sekian tahun ber-fotografi, pastinya si-fotografer atau kurator atau kritikus tingkat dunia akan dapat “melihat” isi sebuah foto beserta pemikiran – pemikiran yang melandasinya, namun pada kenyataaanya para PENIKMAT foto ataupun JURI/KURATOR/KRITIKUS foto tingkat duniapun akan dan hanya “melihat” satu foto yang akan dpilihnya sesuai dengan kaidah fotografi yang pertama yaitu POI/catching eye/tampilan/cetakan…jadi kualitas gambar (secara teknik) baik itu tampilan via monitor maupun kualitas cetakan foto adalah hal pertama yang membuat foto akan dinikmati atau tidak…

    3. fotografi adalah melukis dengan cahaya, mau ga mau, suka ga suka dalam fotogafi kita MUTLAK butuh cahaya…dan CAHAYA pula yang membuat “karakter/isi/pesan” dalam foto kita…jadi ternyata kita harus BELAJAR dalam MENGONTROL cahaya agar foto kita tersampaikan pesannya…

    suwun
    sentothary

  2. T. Diptya Wahyantara says:

    bila interpretasi kita sama, terima kasih. bila interpretasi kita berbeda, ya terima kasih juga…. =)

  3. Iqbal says:

    @kojak: iya, kenapa fotografer itu menekan shutter saat itu, detik itu?

    gua sih penasaran

  4. kojak says:

    mas iqbal, mau jadi dokter? kok pengen bedah otak? kan jadinya foto tuh sama dg apa yg tergambar di otak fotographer saat menekan shutter. tepat,terlalu cepat atau terlambat menekan shutter. ayuuk maen dokter dokteran.

  5. Arif Setiawan says:

    idem naga, analogi nya kena wid.
    kita harus blajar bahasa mereka? kita promosikan bahasa kita? ato biarkan “bagiku bahasaku, bagimu bahasamu” ? salah tafsir itu lumrah, lha wong otak kita emang beda semua. g semua orang mau, mampu dan punya waktu buat ngertiin otak fotografer, dan sebaliknya, banyak fotografer yang g terima ketika idenya di salah tafsirkan…. kalo elu bener, blum pasti orang yg beda ama elu salah kan?
    woops.. kebanyakan ngigau gw kyknya.. ;)

  6. Iqbal says:

    kenapa gak berusaha melihat ke otak fotografer tersebut saat meng-klik shutter pada saat itu, detik itu dan pandangannnya saat itu

  7. … makanya saya bersyukur banget ada unposed, disini saya bisa berekspresi sekaligus dimengerti

  8. Wid says:

    @rin
    nggak juga sih (seenggaknya buatku), aku sendiri selalu tertarik ketika foto-fotoku bisa menimbulkan reaksi yang berbeda dari reaksiku sendiri ketika membuat foto itu. karena aku seringkali bisa belajar hal baru dari situ.

    tapi nggak bisa dipungkiri juga, membuat foto buatku adalah sebuah cara untuk bilang, “hei liat nih, aku tadi liat ini” dan walaupun foto itu bisa ditafsirkan berbeda oleh orang yang berbeda, pasti biar gimana tetep ada rasa senang tersendiri ketika ada orang yg mengerti apa yg berusaha kita sampein, mengerti cara pandang kita. karena dalam taraf tertentu, kurasa itu seakan membuat kita lega karena kita ternyata nggak seaneh dan sesendiri yg kita kira, that someone else out there do understand what we are, despite all the antics we possess.

  9. rin says:

    “Foto harus dimengerti secara sama isi kepala oleh tiap orang yang melihatnya?”

    sepertinya saya masih sangat jauh dari situ..heheh

    sedikit bertanya-tanya, haruskan sama?

  10. Naga says:

    “gimana caranya kita bisa membuat orang lain ngerti apa yg kita berusaha sampein, kalo kebanyakan orang nggak berbicara dalam bahasa yg kita pake?”

    entah kenapa aku suka sekali kalimat ini …

  11. T. Diptya Wahyantara says:

    “gimana caranya kita bisa membuat orang lain ngerti apa yg kita berusaha sampein, kalo kebanyakan orang nggak berbicara dalam bahasa yg kita pake?”

    Terkadang saya juga gregetan ma orang yang suka salah tafsir dengan suatu maksud yang ingin saya sampaikan dalam foto saya. Tapi apa lanjutannya kalo saya cekokin dengan yang saya mau?
    Masih mencoba untuk berdamai dengan keanekaragaman dengan berbagai pengertian dari masing2 penglihat foto.

    Foto harus dimengerti secara sama isi kepala oleh tiap orang yang melihatnya? Yah, mungkin. tapi belum sampai sana saya sepertinya. At least, kita ngerti apa yang kita foto, dan maksud kita tentang isi foto itu.

    ah ngomong apa aku ini… :p
    back to work lagi ya Guys…

  12. ivan j says:

    buat wid.. kebanyakan orang ga ngerti kan.. beberapa orang ngerti mungkin ngeluas ke beberapa lagi dan moga2 semua orang bisa ngerti hahahahha..kalo bahasanya bagus mungkin orang tertarik buat belajar bhs tersebut..
    terus ngmg2 teknik. bener banget teknik sangat membantu kita ! setuju! bukan hanya pas buat efek gambar di fotokita tapi untuk mendapatkan gambarnya aja,kadang butuh teknik… itutuh teknik yang kayaknya musti belajar sendiri dah.. fiuh dapetin gambar aja susah..padahal objeknya ada di depan mata.. ayo belajar teknik! moto yuk moto

  13. Iya yan, emang pernah dibahas, gara-gara ada teman kita yang kesel gara-gara temennya dia terlalu teknis dan sombong. hahaha. Dan udah tuntas. Nyebrangnya yan yang buru-buru. hahaha. Kalo motretnya buru-buru mah kaga sempet ngatur-ngatur shutter speednya yan, kan gw motret modenya selalu ‘M’. Kayanya lo underestimate gitu ya sama gw. fine. hahahaha. Btw, gw setuju yan, emang evaluasi itu penting. Kalo ga, ga akan berkembang. Makanya jangan pernah puas dengan apa yang udah kita dapatkan. Jika sudah puas, maka kita akan berhenti buat berevaluasi.

    Iya, Mas Tommyna. Memang betul apa yang anda katakan. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, memang ada kolerasi yang tidak bisa dipisahkan antara teknis dan sebuah hasil penciptaan dalam fotografi. Cuma teknik hanyalah sarana saja, jangan sampai mendominasi. Dan masalah baik ataupun buruk, itu semua memang relatif.

  14. Tommyna says:

    Quoting Man Ray: “Of course, there will always be those who look only at technique, who ask ‘how’, while others of a more curious nature will ask ‘why’. Personally, I have always preferred inspiration to information.”

    berdasarkan pengalaman pribadi sih, tanpa pengetahuan dan pemahaman yang baik akan teknik pengerjaan suatu pekerjaan, baik itu memotret atau menggoreng telur mata sapi, kemungkinan kita untuk menghasilkan produk akhir yang baik atau indah atau cantik lebih besar daripada produk yang buruk, karena baik/indah/cantik itu relatif tetapi jelek/buruk itu pasti, karenanya ada ungkapan yang mengatakan bahwa “beauty is in the eye of the beholder”, bukan?

  15. Hmmm, gimana yah van? kayaknya udah seharusnya emang seperti itu. Tapi gak bakal mempan disentil aja, kalo gak mau mencari tahu sendiri. I mean, sekarang orang-orang barat udah sibuk bermain-main di era posmodern, Indonesia mulai era romantis aja kayaknya belum. Masih banyak aja suka yang indah-indah. Foto bagus berarti indah, foto indah berarti bagus. Foto indah itu bunga, foto jelek itu tai.

    Yep, konsisten itu emang penting banget tp (pendapat saya sendiri) evaluasi juga gak kalah penting, supaya gak disitu-situ aja.

    PS. ini kayak dejavu, dulu banget kita pernah ngobrolin ini di mashimaro, tapi lupa udah tuntas atau belum. Dan kalo soal penjual nasi goreng yang blur itu sih karena emang motretnya buru-buru, kan bareng motretnya haha.

  16. Kalo menurut aku si yang pertama dengan konsistensi, dengan konsistensi kita terhadap sesuatu hal yang kita lakukan, secara tidak langsung orang lain akan mengerti apa yang kita komunikasikan. Yang kedua kepercayaan. Ketika suatu kepercayaan itu sudah didapat dari komunikan, maka mau tidak mau mereka yang akan mencari jalan agar mengerti apa yang dikomunikasikan oleh komunikatornya. Dikarenakan isi pesan yang ingin disampaikan oleh komunikatornya dianggap sebagai sesuatu yang dapat dipercaya dan memberikan efek positif kepada si penerima pesan tersebut.

  17. Wid says:

    Setuju. Bukan sepenuhnya salah mereka juga sih kalo nggak mau bereksperimen, karena berkembang luasnya fotografi sejak era digital ngelahirin banyak tipe pemotret juga, mulai dari yg beneran serius pingin mendalami sampe yg motret sekedar untuk ngelepasin stress pekerjaan sehari-hari, dan semuanya sah-sah aja. Jadi kaya awal revolusi fotografi untuk masal dulu, pas George Eastman mendirikan Kodak, but much bigger this time around.

    Omong², masih dalam kaitannya dengan teknik fotografi sebagai tata bahasa visual, ada satu hal yg kadang mengusik pikiranku:

    Bahasa dipake buat mengkomunikasikan sesuatu. Dalam komunikasi, harus ada komunikator, media, pesan, dan komunikan (penerima pesan). Untuk mengerti pesan yg dikomunikasikan, si komunikan tentunya harus mengerti bahasa yang sama dengan si komunikator kan? Bahkan make bahasa isyarat sekalipun, komunikator pasti tetep cari isyarat yg mungkin bisa dimengerti komunikan.

    Nah sekarang, balik lagi ke fotografi… postingannya Ivan J beberapa waktu yg lalu kan ngajak kita untuk mencari fotografi kita sendiri, ‘suara’ kita sendiri, bahasa kita sendiri, dan itu kita setuju. Masalahnya kemudian, anggaplah kita akhirnya udah nemu suara pribadi kita masing². Authorship, kalo make istilah yg selalu ditekanin sama David Alan Harvey di BURN magazine. Mungkin nggak orisinil, tapi suara itu otentik punya kita sendiri. Terus, setelah kita nemu dan make bahasa kita sendiri itu, gimana caranya kita bisa membuat orang lain ngerti apa yg kita berusaha sampein, kalo kebanyakan orang nggak berbicara dalam bahasa yg kita pake?

    Something to be pondered, guys…

  18. Iya Wid, memang ada kolerasi yang tidak bisa dipisahkan antara teknis dan sebuah hasil penciptaan dalam fotografi. Cuma teknik hanyalah sarana saja, jangan sampai mendominasi.

  19. Iya, memang teknik kita gunakan untuk melakukan efek-efek tertentu, namun teknik tersebut dimengerti kemudian dikembangkan. Masalahnya jarang sekali ada yang mau bereksperimen dan mengeksplor teknik-teknik tersebut, dengan kata lain mengerti namun hanya dipermukaan saja. Sehingga terkadang bahasa visual dari suatu foto sulit untuk dimengerti. Dan memang isi lebih penting, oleh karena itu harus bisa menghasilkan foto yang berteknik, bukan hanya terpaku pada hal-hal yang bersifat teknis saja. Karena teknis merupakan sebuah dasar saja, bukan merupakan suatu batasan.

  20. Wid says:

    When in doubt, use slower shutter speed. :) ))

    Hehe, seriously though, fotografi kan bisa dibilang bahasa visual, dan yang namanya bahasa pasti butuh tata bahasa kan. Semakin bagus pengetahuan tata bahasa kita, semakin kaya perbendaharaan kata yang kita punya, semakin banyak juga yang bisa kita sampein, dengan berbagai macam cara pula. Kurasa sama aja di fotografi juga kaya gitu, semakin banyak teknik yg kita tau dan bisa kita pake, semakin luas kemungkinan foto yg bisa kita buat. Dan seperti juga sebuah joke yg kadang cuma bisa kedengeran lucu di bahasa asalnya, kadang beberapa scene atau ide juga cuma bisa direalisasikan ke dalam bentuk foto dengan make teknik tertentu aja.

    Yg jadi masalah kan ketika teknik foto nggak dipake untuk menyampaikan pandangan si fotografer, tapi malah teknik foto itu sendirilah yg jadi isi fotonya… I mean, aku akan tau sebuah foto nggak bisa bicara lebih banyak ketika setelah mengesampingkan semua unsur teknis yg kuliat di foto itu, aku ternyata nggak nemu hal lain yg menarik di sana. :)

  21. Ryan says:

    ya leonhard,

    apresiasi apapun terhadap kualitas sebuah karya sangat tergantung dengan kualitas pribadi & kualitas pendidikan seseorang, imajinasi, kebiasaan, kepekaan dan banyak hal lainnya.

    mengenai teknik gw sih sepaham sama iqbal, hanya sebuah tools. nah tools apa yang dipakai menghasilkan efek yang berbeda. isinya lebih penting.

    nggak ada yang sempurna, juga nggak ada yang salah.

  22. oooo maksudnya slow speed? padahal slow speed terjadi karena filmnya asa rendah, lensa tidak super duper cepat

  23. Iqbal S says:

    hm..

    kalo bisa buat nambahin, menurut gua juga masalah tehnik ini bisa dipelajari dengan sendirinya seiring nambahnya pengalaman kita jepret dan sering2 kita melihat karya2 wahid (lukisan atau foto).
    dan sebuah teknik itu merupakan tools (alat perlengkapan) untuk mencapai tujuan akhir kita bukan?

    cheers.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

IMG_2966
kaos
Lee Friedlander, 1499-3: New Mexico, 2001
SPN_jkt