Mencari Pakem Street Photography

Apa istimewa-nya Street Photography? Pertanyaan ini kadang lewat dikepala saya saat melihat-lihat album foto jalanan; baik yang dibuat oleh para “master” maupun pemotret musiman.

Fotografi Merakyat
Street Photography lebih merakyat ketimbang ranah fotografi lainnya. Anda tidak dituntut memiliki kamera mahal, membayar biaya perjalanan atau menyewa model. Kamera saku dan film murah bisa menemani Anda memotret. Pun Anda cukup keluar kamar dan langsung memotret. Pedestarian adalah “studio” Anda.

Point of Interest
Apa yang harus saya potret? Ini sering menjadi masalah – Point of Interest. Jika boleh mengklasifikasi karya-karya master:
Bresson menitik beratkan pada komposisi dan geometri. Erwitt dan Turpin membubuhi humor dan satir pada karyanya. Martin Parr memotret pendekatan psikologi-sosial.ย  Robert Frank mencatat kejadian mikro. Bruce Gilden memotret ekspresi manusia kota. Koudelka “melukis” surealis. Trent Parker bermain-main dengan cahaya… Pada akhirnya setiap individu memiliki ciri yang kuat. Untuk menikmati karya mereka, kadang kita harus mengenali pemikiran mereka – dengan kata lain karya-karya foto para master adalah cerminan jati diri. Itu POI-nya.

Dedikasi dan Disiplin
Berhubungan dengan jati diri, Street Photography menuntut dedikasi dan disiplin yang tinggi. Tidak sedikit kita kenal pemotret jalanan yang berdedikasi terus memotret setiap hari: Daido Moriyama dan Winogrand adalah contoh ekstrim. Memotret seperti bagian dari ritual hidup seperti makan dan seks.

Indah?
… tapi apakah Street Photography juga “indah”? Kita lupakan konsep indah yang ditawarkan majalah dan situs web komunitas (model pakaian minim, pemandangan HDR atau HI dengan kabut dan sinar buatan). Street Photography menyajikan keindahan jika pemotret-nya bilang itu “indah”. Seringkali, “indah” dalam SP artinya unik dan berkarakter. Untuk mendapatkan foto seperti ini, jelas pemotret sudah mengatasi masalah teknis maupun masalah kejiwaan.

Eksperimen
Aha! Dengan kabur-nya konsep “indah” di ranah Street Photography, tak ayal pemotret dihadapkan pada kebutuhan: “bereksperimen”.ย  Terus terang, hal inilah yang justru menguras enerji (dan duit). Saya tahu, banyak pemotret SP yang gonta-ganti kamera/film, eksperimen saat developing dan gonta-ganti POI. Sanking asiknya, hasil foto jadi tidak penting – yang penting eksperimen.

Inilah catatan-catatan saya dalam usaha mencari pakem street photography. Mungkin benar, mungkin nge-lantur. Jadi, tulisan saya ini sangat terbuka untuk didebatkan (atau dianggap sampah).

Share Button

9 Comments

  • mungkin cara salah satunya dengan mencari tau masing2 alasan motret itu sendiri, dan harusnya bukan krn latah, biasa sih latah hanya pemicu.. asal jgn latah melulu hehehhehe

  • percerahan luarbiasa tentang SP ala Indonesia, namun kembali seperti salah stu komentar diatas…semua genre fotografi adalah HAK dimana setiap fotografernya bebas menentukan kearah mana genre foto yang dianutnya yang sesuai dengan karakter dirinya…namun seperti ditulis diatas juga, bahwa genre SP-pun di Indonesia masih mencari “bentuk” yang sebetulnya “bentuk” itu sudah ada namun karena “mentalitas” kita yang selalu kebarat-baratan hingga melahirkan gonjang-ganjing dan atau dinamisasi dalam konteks berkarya. Dalam hal yang paling sederhana di “latahnya” (imho) kita adalah pada masalah tone, dimana setiap komunitas mempunyai (yang katanya) ciri berbeda dari lainnya, padahal tone karakteristik suatu tone tercipta karena kondisi geografis dari sebuah kultur di negara-negara yang menjadi panutan tersebut. (sory agak nglantur)…begitu juga dengan SP, dimana PAKEM tentang “HI” dan “Candid” telah mengakar dibenak seluruh fotografer Indonesia, sehingga hal yang selalu dicari (kebanyakan) oleh para SP di Indonesia adalah dengan mencari subyek yang “HI banget” dan “Candid banget”. Tentang kesengsaraam, kemanusiaan, kontrasnya kehidupan. politik…jadi apapun genrenya, kebanyakan fotografer Indonesia adalah karena latah….

    suwun
    sentot hary

  • jgn takut motret apapun alasannya. foto hanya media tmpat keluarnya pandangan individu tntang dunia. dan gua rasa sbagian bsar teman2 di unposed mempunyai pandangan yng sama

  • semua street fotografi memiliki makna filosofi yang mendalam ketika kita memotretnya baik disadari maupun tidak disadari..kebanyakan tidak kita sadari .toh kita motret melihat dan bereaksi tanpa pake banyak mikir, adanya dorongan hati yang kadang2 kita tidak bisa mengartikan keindahan yang kita rasakan pada saat mengambil gambar.Dan tanpa disadari gambar itu menceritakan dan ber intrepertasi berjuta makna untuk fotografer itu sendiri maupun penikmatnya.

    rahasia rahasia di balik street fotografi sangat banyak yang perlu di gali untuk mencari sebuah pakem. baik dalam fotonya dan baik dalam diri kita kenapa mengambil gambar dan sebagainya.
    saya tidak percaya dengan seseorang yang hanya berkata “iya gw motret street karena gw suka aja gt unik” ,”iya gw suka lihat foto street karena kayaknya unik aja gt,tapi gw ga bisa motretnya” banyak kata2 tersebut di ucapkan beberapa teman dan termasuk saya sendiri.. tapi di balik kata2 yang cuma suka aja, unik, ada penyampaian lain yang panjang dan tidak bisa di sebutkan 1-1 tentang kehidupan dan faktor2 melankolis lainnya kepada apa yang kita rasakan sebelum mengambil gambar dan kita rasakan terhadap sebuah foto street fotografi.

    setidaknya alasan2 tersebut di atas membuat saya suka dengan street fotografi di bandingkan foto2 yg lain karena rahasia tersebut.

    mengenai keindahan saya rasa semua fotografi memiliki keindahan sendiri
    walaupun dengan kabut buatan di Hi “ray of light” mungkin yak maksudnya?
    yahh ada seninya juga dalam membuat olahan seperti itu dan tidak gampang begitu juga dengan lain2nya.

    mungkin quote yg tepat buat hr ini adalah
    “kebijaksanaan adalah melihat sisi positif dari setiap hal”

    hanya mencegah fanatisme sempit kawan2

    keren vict mantap!

    MAJU TERUS UNPOSED!

  • Om Ben aka Kojak,
    Meski Street Photographer kedengarannya sederhana, ternyata entry-barrier nya justru tinggi. Pertama bukan sekedar punya nyali tapi juga butuh peka sama situasi dan lokasi.
    Perlu diskusi khusus untuk menemukan arti “jalanan” atau ruang publik (non-bayar) bagi manusia Indonesia. Syukurlah masih ada pemotret jalanan yang mampu mendokumentasikannya.

    Ayo dibahas…

  • yeah akhirnya ada juga yang menyulut sumbu. Thanks Vic.
    dari judulnya “mencari pakem street photography” aku malah sempat ngobrol banyak tentang “street photography indonesia tuh yang gimana sih?” sama si Boljug. kurasa hal ini patut untuk didiskusikan karena sampai saat ini acuan kita SP adalah dari dunia barat, dimana panggungnya tertata rapi, beda dengan di negara kita tercinta ๐Ÿ™‚
    entahlah kemana arah pakem foto2ku (rasanya sih makin jelek dan ngawur !!)
    Bagiku, aku lebih suka ketika sebuah foto street menggambarkan keunikan dari kehidupan jalanan entah itu lucu, ironi atau misteri.

  • Harus diakui tulisan ini masih cetek dan terkesan terburu-buru. Namun gua berani beresiko karena gua anggap tidak apa sebagai pijakan awal dalam usaha mengidentifikasi apa itu “Street Photography”.

    Gua juga lagi mencoba melengkapi bahan dengan mencermati SP melalui sejarah, motivasi, proses dan hasil karya kebanyakan. Mudah-mudahan sukses dan nggak terperangkap pada pusaran “seni itu subyektif”.

  • tulisan yg menarik… dan gue sangat setuju dengan semua poin yang ditulis om vict disini…
    mungkin gue pengen nambahin satu poin lagi, IMHO yak…
    menurut gue, street photography ini merupakan genre fotografi yang paling jujur… karena yang terekam dalam media plastik film maupun sensor digital merupakan kejadian sehari-hari apa adanya, realita kehidupan manusia… bukan seperti model yg bergaya di depan kamera yang posenya kita atur… nah, mungkin yang ditampilkan di foto street ini adalah momen kejadian sehari-hari yg apabila terkomposisi dalam suatu foto itu akan menjadi sesuatu hal yang unik dan bisa mengandung cerita atau makna yang berbeda-beda, tergantung interpretasi masing-masing aja… ๐Ÿ˜€

  • “Untuk menikmati karya mereka, kadang kita harus mengenali pemikiran mereka โ€“ dengan kata lain karya-karya foto para master adalah cerminan jati diri. Itu POI-nya.”

    quote yang asik ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *