Kurniadi Widodo: “Menangkap momen tanpa mengatur scene”

kurniadi.widodo_1987310533

Kurniadi Widodo adalah salah satu Documentary / Street Photographer yang berdomisili di Yogyakarta, dia adalah salah satu favorit Street Photographer saya sendiri yang ada di Indonesia (dan rasanya ada suatu kepuasan tersendiri bagi saya, bisa mewawancarainya). Karya-karyanya Kurniadi Widodo bisa dilihat disini:http://kurniadiwidodo.blogspot.com dan http://shinsenfreak.deviantart.com.

___________________________________

 

FK: Hi Wid, bisa cerita sedikit, bagaimana pertama kali kamu tertarik di Street Photography? Dan menurut kamu Street Photography itu sesuatu yang bisa dipelajari atau talenta?

Wid: Kupikir ketertarikan awalku pada street photography adalah perkembangan logis dari bagaimana aku tertarik oleh kegiatan memotret itu sendiri sekitar 4 tahun yang lalu, yaitu dari keisenganku mendokumentasikan teman-teman kuliah di berbagai kesempatan. Sebelum aku tertarik fotografi aku sudah cukup sering memotret berbagai aktivitas mereka, dan sejak dulu aku selalu merasa tidak terlalu nyaman melihat teman-teman yg berpose ketika kufoto, dan karenanya aku lebih sering mencuri-curi snapshot mereka.

Buatku, walaupun mungkin tidak selalu menampilkan sisi terbagus dari seseorang, foto snapshot lebih bisa membangkitkan ingatan akan hal-hal yang terjadi pada saat kita memotretnya ketimbang foto bareng ataupun foto berpose. Kebiasaan dan kecondongan “menangkap momen tanpa mengatur scene” itulah yang kemudian berlanjut ketika aku memutuskan untuk serius mempelajari fotografi, dan tentunya secara alamiah aku lebih tertarik pada sisi dokumenter dari fotografi. Dari situ, tidak butuh waktu lama sampai aku tahu tentang street photography dan merasa bahwa karakteristiknya sangat cocok dengan apa yang sudah kulakukan selama ini.

Soal bakat, mungkin memang memilikinya akan cukup membantu prosesnya, tapi kurasa siapapun bisa mempelajari street photography dan menjadi kompeten di dalamnya, selama dia memiliki semangat untuk terus menjadi lebih baik, keingintahuan yang besar, dan konsistensi dalam berkarya.


~


FK: Bisa sedikit definisikan ‘style’ kamu sendiri itu seperti apa?

Wid: Aku tidak terlalu yakin bagaimana harus mendefinisikan foto-foto yang kubuat, karena dalam rentang waktu yg relatif masih singkat dalam mempelajari fotografi, aku merasa aku juga masih belum punya ‘suara’ yg jelas. Lagipula menurutku, ketimbang style, sebenarnya yang lebih penting untuk dimiliki terlebih dahulu adalah sesuatu untuk disampaikan. Bila fotografi adalah sebuah bahasa visual, suatu medium untuk berkomunikasi, maka sejauh ini aku merasa aku barulah belajar bagaimana caranya berbicara, memperluas kosakata visual yang kumiliki, dan mencari ‘intonasi’ bicaraku sendiri, tanpa benar-benar punya sesuatu yang jelas untuk kubicarakan/kusampaikan. Mungkin ini seperti orang pendiam yang sesekali mengeluarkan celetukan-celetukan singkat, isinya kadang cerdas dan berbobot, kadang lucu dan ringan, kadang tak bisa dimengerti dan sebagainya, tapi pada akhirnya setiap celetukannya bukanlah sesuatu yang penting. Aku merasa foto-fotoku seperti itu. Tidak ada kaitan satu dengan yang lain, setiap foto adalah cerita pendeknya sendiri.

Dan kecuali pada sedikit kasus tertentu, aku juga pada dasarnya tidak terlalu tertarik untuk menyampaikan obyektivitas seperti halnya seorang fotojurnalis. Ini mungkin sedikit aneh mengingat sebelumnya aku bilang tertarik pada dokumenter… tapi yang kumaksud adalah lebih cenderung ke ‘dokumenter personal’, satu respon pribadi akan apa yang kita rasakan ketika mengalami sesuatu, dan bukan sesuatunya itu sendiri. Memotret sesuatu kan pada dasarnya mengatakan, “Lihat ini! Hal ini lebih menarik ketimbang hal-hal lain di sekitarnya!” Nah, seringkali ketika aku tertarik pada sesuatu yang kulihat, hal yang kuanggap menarik sebenarnya bukanlah apa yang sedang terjadi di situ, tapi apa yang mungkin bisa ‘dikembangkan’ dari apa yang sedang terjadi di situ. Bisa dikatakan aku tertarik pada cerita-cerita alternatif yang mungkin bisa terjadi dari suatu kejadian yang kufoto.


~


FK: Apakah latar belakang kamu kuliah di Arsitektur cukup mempengaruhi (karena kalau aku lihat kamu banyak sekali bermain-main di unsur grafis) ?

Wid: Bisa dibilang begitu, walaupun lebih sebagai pemberi pengaruh estetik semata. Ini bisa dilihat dari komposisi foto-fotoku yang banyak memanfaatkan permainan bidang. Mungkin ini karena ‘photobooks’ pertama yang kulihat bukanlah buku fotografi, melainkan buku-buku yang membahas karya arsitektural yang berisi banyak foto-foto yang terkomposisi sangat rapi. Sering melihat foto-foto seperti itu membuatku peka akan bentuk dan ruang, sehingga tidaklah terlalu sulit bagiku untuk mereduksi hal-hal yang kulihat menjadi elemen-elemen desain yang lebih sederhana, seperti garis, lingkaran, persegi, dsb. Juga mengelompokkan hal-hal yang kulihat berdasarkan properti pendukungnya seperti warna, tekstur, dsb. Lebih mudah untuk menyortir dan menyusun kembali kekacauan visual bila kita tidak melihat segala sesuatu dari segi “apa”, tapi “bagaimana”. Tapi sejujurnya saat ini aku sedang bergelut untuk melepaskan pengaruh itu, walaupun pengaruh itu sendiri bukan sesuatu yang kulakukan secara sadar. Masalahnya adalah cara memandang seperti itu, walaupun ada gunanya, kadangkala pada akhirnya juga membatasi apa yang bisa “kulihat”. Adegan-adegan yang kuanggap menarik lalu hanya terbatas pada mereka yang memiliki keteraturan bentuk tertentu, dan lalu hal-hal yang menurutku berpotensi untuk difoto menjadi mudah tertebak, dan foto-foto yang dihasilkan pun juga akan terancam bahaya menjadi sesuatu yang klise. Aku melihat karena pengaruh studi arsitekturku, dan ditambah sifat perfeksionis yang kumiliki, foto-fotoku terlalu teratur, terlalu presisi. Aku berharap bisa membuat keteraturan itu setidaknya terlihat lebih subtle.


~


FK: Menurut kamu pribadi bagaimana Street Photography itu seharusnya?

Wid: Cukup sulit menjawabnya, karena begini… bagaimana kalau misalnya aku balik bertanya, “seperti apa masakan yang enak itu seharusnya?” atau “bagaimana musik yang bagus itu mestinya?” Sebagaimana hal-hal lainnya yang kita tangkap dan nikmati dengan panca indera kita, jawaban terbaik yang bisa kuberikan untuk pertanyaan seperti itu hanyalah, “kita cuma akan tahu ketika kita mengalaminya.”  Mungkin memang jawaban itu terkesan tidak banyak memberi masukan ya, tapi coba pikirkan, kalau aku sudah tahu terlebih dahulu bagaimana seharusnya foto yang bagus itu, pasti sudah setiap saat kupraktekkan dan tiap foto yang kuhasilkan akan menjadi bagus kan? Menurutku kita cuma bisa melihat contoh per kasus dan menilai dari berbagai kriteria yang sudah kita kumpulkan dan pelajari sebelumnya, apakah foto yang kita lihat adalah sebuah foto yang bagus.

Tapi bagaimanapun, ada beberapa karakteristik tertentu yang selalu muncul di setiap karya street photography yang kusuka. Yang terutama adalah ia mampu bercerita dan mengingatkan tentang bagaimana artinya hidup sebagai seorang manusia, yang selalu saja mempengaruhi segala sesuatu yang ada di sekitarnya, entah itu baik ataupun buruk. Dalam beberapa kasus mungkin malah tidak harus ada manusia di dalam sebuah foto street yang menurutku bagus, tapi ia tetap bisa ‘manusiawi’ dan membuat kita berpikir tentang kehidupan kita. Mungkin itu ya penentunya, ketika foto tak hanya mengejutkan kita di awalnya saja karena tampilan yg menarik, tapi juga bisa menahan kita untuk terus melihatnya dan ‘berdialog’ dengannya… ketika foto tidak menjadi sebuah ujung, tapi justru hanyalah sebuah pangkal. Seperti sebuah jendela, yang mengajak dan mengijinkan kita untuk melongok ke sisi yang lebih luas yang ada di baliknya. Pada saat itulah kita akan tahu bahwa ia adalah sebuah foto yang bagus.


~


FK: Kenapa pilih hitam-putih? Apakah ada hal yang ingin diperkuat? Atau malah ingin disembunyikan?

Wid: Dalam kasusku kurasa lebih karena yang ada yang ingin disembunyikan ketimbang diperkuat. Seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, aku tertarik untuk menciptakan narasi baru yang berjalan beriringan dengan narasi aslinya, tanpa mengganggu jalannya narasi asli itu sendiri. Keberadaan warna seringkali kulihat membantu kita untuk mengidentifikasi apa yang sedang terjadi di dalam satu adegan, menghubungkannya dengan kenyataan yang sudah pernah tersimpan di otak kita. Dengan foto hitam putih aku melihat hubungan itu bisa setidaknya dikurangi, ketiadaan warna membuat kita lebih sulit mengasosiasikan adegan dalam foto ke bank data di otak kita. Bila dikombinasikan dengan kondisi-kondisi tertentu seperti pencahayaan, penghubungan obyek-obyek yang tak terduga, dan sebagainya, aku mendapati bahwa semua hal tersebut bisa menimbulkan semacam disorientasi yang kemudian akan membuat kita mengisi kekosongan informasi yang ada di foto itu dengan apapun yang kita mau. Belakangan ini aku mulai mengeksplorasi warna juga sih, tapi dengan cara pandang yang berbeda dari apa yang selama ini kulakukan di street photography hitam putih. Aku belum tahu apakah ini nantinya akan mempengaruhi pertimbanganku juga dalam memotret street ataupun membuatku sepenuhnya beralih ke warna, kita lihat saja nanti. Yang jelas aku berusaha mencari berbagai alternatif solusi karena dengan apa yang kulakukan, ada beberapa persoalan yang tidak bisa kupecahkan.

 

~


FK: Kalau aku lihat di Indonesia, Street Photography masih sering kali di salah artikan sebagai “foto yang di ambil di jalanan”. Siapa yang salah sebetulnya? Merasa terbebani, sekaligus tertantang untuk mengubah hal ini lewat foto-foto kamu?

Wid: Menurutku semua pihak -termasuk pelaku street photography sendiri- punya andil yang mengakibatkan timbulnya kebingungan dan kesimpangsiuran akan genre fotografi ini. Sebagai permulaan, street photography yang di Eropa sudah mulai hidup sejak awal abad ke-20, di Indonesia adalah sesuatu yang belum terlalu lama ini berkembang. Era internet bisa dibilang adalah penyebab utama generasi kita terekspos pada street photography. Sebelumnya, kurasa hanya sedikit orang yang mengetahuinya, apalagi melakukannya. Tidak seperti genre fotografi lain, di Indonesia kita tidak punya pionir ataupun fotografer senior yang bisa kita jadikan dasar patokan untuk menilai karya-karya street photography yang generasi sekarang mulai hasilkan. Karenanya lalu peminat fotografi umum dan awam menggunakan dasar patokan dari genre fotografi lain untuk menilai karya-karya street, dan ini menyebabkan ketimpangan karena memang kaidah-kaidahnya tidak sama. Sayangnya ini kemudian diperparah lagi dengan kejelekan kita yang malas mencari tahu lebih banyak. Aku yakin kita pasti pernah menemukan situasi dimana ada seseorang (atau mungkin kita sendiri) memberi artikel fotografi di diskusi internet hanya untuk kemudian menerima respon seperti “wah saya masih newbie”, “yang bahasa Indonesia nggak ada?”, dsb dari penerimanya. Situasi seperti ini amat sangat menghambat pertukaran informasi.

Hal di atas itu pada gilirannya menyebabkan pelaku street photography di Indonesia yang jumlahnya tidak signifikan dibanding penggemar genre fotografi lainnya pun lalu merasa malas untuk bertukar informasi, dan lalu hanya berinteraksi dengan mereka yang berminat sama saja, yang pada akhirnya memberi kesan peminat street adalah orang-orang yang elitist dan arogan. Aku bisa bilang seperti itu karena beberapa orang memang pernah menyampaikan asumsi seperti itu. Menurutku yang bisa kita lakukan adalah hanyalah terus berkarya secara konsisten, dan membuat outlet yang membahas street photography secara terbuka dan mudah diakses seperti Unposed ini, dan berharap bahwa dalam beberapa tahun ke depan, semua ini akan mulai menunjukkan hasilnya dan street photography akan menjadi satu genre yang dimengerti dan juga patut diperhatikan di Indonesia. Seperti yang kukatakan tadi, kita tidak punya pionir di bidang ini… maka mau tidak mau generasi kita lah yang harus jadi pionirnya.


~


FK: Sekarang aku akan sedikit membahas tentang Yogyakarta yang mana hampir semua foto kamu dibuat disana. Aku percaya Yogyakarta punya karakteristik yang berbeda, Yogyakarta terlihat punya ciri khas tersendiri, akulturasi antara modern dan tradisional, ditambah Yogyakarta punya ‘slower pace’ dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia (Jakarta khususnya). Apakah karakteristik ini yang membuat kamu nyaman mendokumentasikan Yogyakarta ?

Wid: Jogja memang kota yang punya arti khusus buatku. Dari beberapa kota yang pernah kutinggali, cuma Jogja yang bisa membuat aku menganggapnya “kampung halaman”, walaupun nyatanya aku bukan penduduk asli sini. Tapi kenyamanan tinggal di sini kupikir tidak sama dengan kenyamanan mendokumentasikannya. Maksudku, “memotret Jogja” dan “memotret sesuatu yang ada di Jogja” adalah dua hal yang berbeda. Dan walaupun aku sangat ingin bisa melakukan yang pertama, kurasa aku baru bisa melakukan hal yang kedua. Aku masih belum bisa menemukan cara yang tepat menangkap ‘jiwa’ kota ini, menunjukkan apa yang begitu kusuka dari Jogja sehingga betah tinggal di sini dan menampilkannya dalam foto-fotoku… mungkin karena ia memang bukanlah sesuatu yang bisa kita tangkap secara visual. Yang jelas, ia tidak bisa ditangkap hanya dengan memasukkan suatu ikon yang kerap diasosiasikan dengan kota ini… misalnya, hanya karena aku memotret Kraton, atau Malioboro, atau Candi Prambanan, atau Parangtritis, tidak lalu berarti aku telah berhasil menunjukkan apa yang kusuka tentang kota ini. Karena aku bisa merasakan bahwa ia lebih dari sekedar itu. Sebagai orang yang tinggal di Jogja, sehari-hari aku malah jarang melihat hal-hal yang kusebutkan tadi, dan karenanya tidak terlalu merasakan kaitan batin dengannya, tapi toh itu sama sekali tidak mengurangi kecintaanku akan Jogja. Kalau kulihat-lihat lagi tidak banyak fotoku yang bercerita tentang Jogja secara langsung. Kalaupun ada paling seperti foto ini, yang lebih menceritakan tentang romantisasi ide yang kupunya akan kota ini, ketimbang fakta konkritnya:

 

Atau mungkin itu juga hal yang menghalangiku mendokumentasi tempat tinggalku ini: yang kucintai mungkin saja adalah ide tentang Jogja, dan bukannya Jogja itu sendiri. Entahlah, aku juga masih bergelut untuk mengetahuinya.

foto6

~


FK: Cerita sedikit dong tentang foto kamu yang ini, aku tertarik bagaimana kamu memanfaatkan “lines” dan “space” ?

Wid: Foto itu kubuat di sebuah perlombaan renang tingkat SMP se-Jawa & Bali yang kebetulan diadakan di sebuah sport center di dekat tempat aku tinggal. Aku sebenarnya tidak tahu ada perlombaan itu, yang kutahu hanyalah sport center itu jauh lebih ramai dari biasanya ketika itu. Karena tertarik, aku masuk ke dalam (untuk pertama kalinya pula). Setelah beberapa saat melihat-lihat, aku mulai memotret suasana sekitar dan pada saat itulah aku melihat tribun penonton yang tempatnya persis berada di atas kotak start perenang. Sejak melihat lokasi tribun yang potensial aku sudah langsung memiliki bayangan untuk memotret para perenang ketika melakukan lompatan start. Jumlah perenang yang bisa dimasukkan frame maksimal 2 orang, konsekuensi penggunaan lensa 50mm yang kupakai ketika itu. Mempertimbangkan hal itu dan melihat background dasar kolam yang simpel serta keberadaan tali pembatas jalur di kolam, aku berpikir komposisi simetris cocok untuk situasi ini, dan yang perlu kulakukan setelahnya hanyalah menunggu momen yang tepat untuk melengkapi scene minimalis ini. Tapi aku sama sekali tidak menduga akan mendapatkan momen dimana salah satu perenang telah mencapai air sementara yang satunya masih di udara… aku hanya ingat menekan shutter release ketika aku melihat keduanya melompat. Aku sendiri kaget juga begitu melihat frame ini setelah mendapatkan roll-nya dari lab. Apalagi frame ini adalah satu-satunya yang kuambil dari momen dan komposisi ini!


~


FK: Bagaimana dengan yang ini ?

Sudah observasi sebelumnya ?

Wid: Foto ini diambil di event Grebeg Sekaten di Kraton Jogja. Semenjak menjamurnya kamera digital, event-event budaya seperti ini selalu jadi magnet bagi banyak pemilik kamera dari berbagai latar belakang, termasuk aku sendiri. Cuma, walaupun masih tetap suka datang ke event seperti ini, belakangan ini aku tidak lagi mendokumentasi jalannya prosesi budayanya sendiri karena dengan banyaknya jumlah pemotret (yang seringkali malah jauh lebih banyak ketimbang peserta prosesinya), foto yang kuhasilkan dari memotret prosesi itu pasti tidak akan jauh berbeda dengan pemotret lain di sekitarku yang juga sibuk berebut tempat untuk angle terbaik. Dan kalaupun aku bisa mendapat foto yang cukup baik dari prosesi itu, kupikir pada akhirnya yang bisa kutunjukkan adalah foto dari sesuatu yang aku yakin banyak orang sudah pernah lihat sebelumnya, dan kemungkinan juga mereka telah melihat foto yang lebih baik dari adegan itu. Karenanya aku melihat event budaya seperti ini semata sebagai waktu dan tempat dimana banyak orang berkumpul. Dan di situasi seperti itu hal-hal menarik akan lebih sering terjadi, seperti contohnya foto ini.

Pada saat itu rangkaian acara utama belum dimulai. Gunungan berisi makanan yang nantinya akan diperebutkan masyarakat belum berjalan, para prajurit kraton juga masih belum berpawai. Kebanyakan fotografer kulihat juga tidak banyak memotret di rentang waktu itu, tapi buatku inilah masa dimana aku bisa bebas berkeliling, sebelum tempat ini nanti akan penuh sesak. Awalnya aku melihat sekumpulan petugas keamanan wanita yang juga tengah menunggu jalannya prosesi. Dua orang dari mereka (di kumpulan di sisi kiri frame) telah terlihat menggunakan telepon genggam mereka. Ketika aku bergerak mendekat, salah seorang dari mereka (petugas di kanan frame ini) memisahkan diri dan mulai mengangkat telepon genggamnya sendiri. Aku sudah cukup senang dengan momen itu dan sudah siap membidik lewat viewfinder, ketika tiba-tiba seorang wanita lain masuk frame dari arah kiri, berhenti di tengah frame, dan memeriksa telepon genggamnya. Yang perlu kulakukan hanyalah menekan shutter release… ini seperti mengkonfirmasi bahwa street photography memanglah banyak tergantung pada keberuntungan, tapi keberuntungan akan lebih sering terjadi ketika kita siap mengantisipasinya.

~


FK: Pertanyaan terakhir, ada keinginan tertentu yang ingin kamu capai? Ada saran yang ingin kamu sampaikan untuk  yang ingin serius di Street Photography?

Wid: Aku pada dasarnya bukan orang yang mempunyai ambisi tinggi, aku tidak punya cita-cita untuk menjadi fotografer yang populer, yang sukses secara materiil atau semacamnya… sederhana saja, aku hanya berharap bisa terus melakukan apa yang kulakukan sekarang. Tidak terbatas hanya street photography, tapi proses fotografi itu sendiri secara keseluruhan. Karena walaupun aku tidak tahu pasti apa gunanya aku memotret hal-hal yang kufoto saat ini, aku meyakini sepenuhnya dalam hati bahwa ini adalah sesuatu yang buatku ‘benar’. Fotografi adalah caraku memasukakalkan hal-hal yang ada di sekelilingku. Ada sebuah kutipan dari Josef Koudelka yang kusuka dan sangat beresonansi dengan apa yang kurasakan: “I want to find my limits, to see how far I can go. The maximum, that’s what’s always interested me.”

Untuk saran… buka wawasan, jangan mudah merasa puas, selalu pertanyakan segala alternatif solusi yang mungkin (“bagaimana kalau…”) di berbagai permasalahan visual yang anda temukan, jangan takut mencoba hal baru di luar kebiasaan –bahkan menurutku cobalah sengaja lakukan hal yang ‘salah’. Dan juga yang paling penting, nikmatilah proses melakukannya. Street photography buatku bukanlah hanya soal foto-foto yang anda hasilkan, tapi juga soal apa yang terjadi selama anda berjalan kaki dan melihat serta menerima dunia di sekeliling anda.


~


Share Button
Tags from the story

5 Comments

  • ah keren febriyane en widodo! selamat wawancara yg luar biasa..

    dan rumusnya mas kojak ga kalah keren 4 sehat 5 sempurna… bener banget tuh.. cukup ngeliat aja kadang uda puas banget..walaupun geregetan ga bawa kamera..

    inspiratif banget wawancaranya , sip

  • yeah…. suka banget baca wawancara ini. apalagi tutur bahasanya khas pujangga street photographer.
    aku suka kalimat diakhir wawancara ini : “Street photography buatku bukanlah hanya soal foto-foto yang anda hasilkan, tapi juga soal apa yang terjadi selama anda berjalan kaki dan melihat serta menerima dunia di sekeliling anda.”
    kalau photo jurnalis punya rumus 4W 1H Who-When-What-Where-How (CMIIW),
    kita punya 4 Sehat 5 sempurna : jalan kaki-senyum pada org-sinar matahari-air putih. 5 sempurna tercapai ketika kita menghasilkan foto bagus. kalaulah tak ada foto bagus hari itu, toh kita sudah melakukan 4 sehat.

    maju terus Unposed.

  • wawancaranya nendang!
    Street photography memang memerlukan komitmen, juga semangat untuk melakukan sesuatu yang beda. Bukan hanya di jalan dan tempat umum, tapi juga kuburan :p

    Thanks, both of you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *