Interview Dengan Arif Setiawan

Screen shot 2011-06-19 at 3.02.17 PM

Belakangan ini, saya mulai melihat ada kecenderungan peningkatan animo terhadap street photography di Indonesia. Mulai dari semakin banyaknya yang mengunggah foto-foto street di berbagai situs komunitas fotografi, sampai mulai maraknya juga event maupun kompetisi street photography di berbagai kota di Indonesia. Perkembangan yang cukup menggembirakan. Dari sekian pendatang baru di genre ini, ada sedikit yang mulai menarik perhatian saya karena karya-karyanya yang menunjukkan kepekaan visual yang lebih tajam dibanding sesamanya yang mulai memotret pada periode yang kurang lebih sama. Salah satu dari mereka adalah Arif Setiawan, yang saat ini tinggal dan bekerja di Papua. Berikut obrolan saya dengan Arif.

—–

Wid: Oke Rif, kita mulai dari yang basic dulu… Sebelum ini kita sudah sempat sekali bertemu di Jogja dan ngobrol-ngobrol, dan baru pada saat itu aku tahu bahwa kamu pegawai negeri sipil. Tapi sepertinya aku belum tahu tentang bagaimana kamu bisa kenal dunia fotografi. Bisa ceritakan sedikit tentang itu?

Arif Setiawan (AS): Pada awalnya aku dipinjami kamera prosumer oleh temanku, olehnya aku disuruh belajar biar bisa membantu dia memotret pernikahannya. Itu Maret 2008 kalau nggak salah, terus aku  mulai mencari-cari pelajaran tentang fotografi, dan nyasar di FN… Di sana tertarik oleh fotografi landscape, ketemulah dengan Lambok Sinaga, dari dia aku mulai tahu tentang foto-fotomu, Erik, Karolus Naga, Diwa, Aul dsb… Mas boljug, om Igor.. Dari situ aku mulai tertarik ke snapshot secara umum, dan lalu aku mulai bertanya-tanya ke orang-orang tersebut. Terus aku lihat thread tentang urban surrealism di FN juga, disitu banyak nama fotografer street disebutkan, kucari satu persatu, lalu ketemu Magnum dan banyak rekomendasi situs dari kamu juga.

Wid: Lalu, apa yang membuat kamu tertarik dengan foto-foto snapshot yang kamu sebutkan tadi?

AS: Iya, pertamanya nggak tahu juga ya, cuma sensasi melihatnya berbeda dengan foto-foto lain. “Kok bisa orang kepikiran foto seperti ini…”, pikirku dulu. Terus aku merasa waktu itu kesempatan mengeksplorasinya luas banget dengan variasi isi foto yang juga sangat luas menurutku dibanding jenis foto lainya.

Wid: Kemudian ketika kamu mencobanya sendiri, apa kamu punya semacam guideline tertentu untuk memotret foto-foto snapshot itu? maksudku, ketika kamu melihat foto-foto yang kamu suka itu, walaupun awalnya kamu sekedar merasakan ‘sensasi yang berbeda’, apakah lalu kamu mulai menyadari hal-hal yang mendefinisi bagaimana foto-foto itu terlihat menarik, dan lalu mencoba mengaplikasikannya ke prose memotretmu sendiri?

AS: Iya, dari beberapa foto-foto snapshot karya orang lain yang kusuka, aku menangkapnya seolah-olah ada interaksi antar 2 elemen di satu foto, ketika ini kucoba untuk aplikasikan ke fotoku sendiri, jadinya fotoku yangg orang jalan dan ada gambar setan itu…  dan 2 orang anak kecil dan kapal.

3607471471_d69a87e98d_o

AS: Lalu setelah melihat Magnum dan  iN-PUBLiC, mulai agak banyak pemikiran bikin foto yang seperti apa.. Intinya foto kejadian sehari-hari dengan kejadian dan detail yang menarik, misalnya selain foto tentang hubungan elemen-elemen tadi, juga foto-foto yang memanfaatkan lighting gelap terang, framing, movement-blur, kejadian spesifik, dan sebagainya.

Wid: Salah satu hal yang menurutku menarik dari keadaanmu adalah domisilimu saat ini di Papua. Wilayah Indonesia bagian timur kulihat belum terlalu banyak diangkat dari sisi fotografi, dan sejumlah kecil orang yang memotretnya pun baru melakukannya sebatas menunjukkan keindahan alamnya, atau budaya masyarakat tradisionalnya yang untuk kebanyakan orang dilihat sebagai sesuatu yang eksotis. Bagaimana pandanganmu akan hal ini? Hal ini mempengaruhimu dalam memotret nggak sih, kamu melihat dirimu sebagai seorang ‘outsider’ yang memotret hal-hal yang ada di luar kebudayaanmu, atau kamu nggak terpengaruh akan hal-hal seperti itu?

AS: Nah, pikiranku juga begitu, selama ini Papua/orang Papua dipotret layaknya orang pergi ke tempat wisata, bukan sebagai tempat tinggal manusia dengan atribut kehidupan sehari-harinya. Aku inginnya malah memotret mereka dalam keadaan yang biasa. Intinya, aku ingin menunjukkan, Papua di kehidupan sehari-hari tanpa harus mendramatisirnya.

Wid: Tapi walaupun begitu, sepertinya nggak bisa dipungkiri bahwa lokasi memotretmu di Papua juga banyak berpengaruh ke keunikan hasil fotomu. Kulihat banyak yang bersetting non-urban, seperti misalnya pantai, sungai, dan nggak sedikit juga terlihat barisan pegunungan di latar belakang. Ini berbeda dengan tradisi street photography pada umumnya yang banyak menunjukkan kesibukan di kota-kota besar. Apa pemilihan setting ini sesuatu yang memang kamu sengaja, atau memang keadaan lokasi memotretmu di sana yang sangat dekat dengan alam bebas seperti itu? Bisa deskripsikan tempatmu biasa memotret di Papua?

AS: Iya pastinya, tempat tinggalku memang dekat dengan alam bebas, dengan wilayah perumahan dan perkantoran di kota yang cuma sekitar 2 km², aku kesulitan mencari tanda-tanda urban di sini. Nggak disengaja tapi juga nggak menghindari, pada dasarnya aku memotret dimana saja, tinggal melihat apa yang terjadi di sekitar dan cari apa yang menarik saja. Fotoku kebanyakan di Paniai, Nabire dan Jayapura. Paniai itu yang kotanya nggak lebih dari 2 km², di ketinggian 1300m dpl, dengan danau di sekitarnya. Transportasi ke kota lain harus memakai pesawat. Nabire lebih ramai dan maju, di Nabire seringnya memotret di pasar dan pantai. Jayapura sudah agak urban, fotoku yang urban hampir semua diambil di Jayapura.

4098274343_8f7431dd18_o

Wid: Merasa diuntungkan nggak, dengan lokasimu yang bisa dibilang spesial dan nggak banyak bisa diakses fotografer lain dengan mudah?

AS: Iya tentunya, walaupun kadang ingin juga motret kehidupan perkotaan dan menjalani kehidupan perkotaan.

Wid: Tapi buatku salah satu keunikan dan kekuatan utama foto-fotomu (setidaknya sejauh ini) adalah interelasi antara orang-orang yang ada dalam scene yang kamu foto dengan tempat tinggal mereka yang memang berbatasan langsung dengan alam bebas itu… mereka tinggal sangat dekat dengan keindahan alam, tapi perilaku dan aktivitas mereka tak banyak berbeda dengan mereka yang tinggal di lingkungan yang lebih urban. Mungkin ‘tensi’ antara dua karakteristik yang biasanya tidak kita jejerkan berdampingan inilah yang membuatku selalu tertarik pada karya-karyamu. Dan ini bukanlah sesuatu yang bisa ditemui di kota. Apa kamu nggak khawatir kamu akan kehilangan ciri khasmu itu kalau kamu motret di lingkungan yang lebih urban?

4020068340_3a5960d2ff_o

AS: Selama ini aku nggak pernah berpikir sampai situ, aku cuma berusaha lebih memperhatikan sekitar saja, foto-fotoku lebih ke reaksi atas apa yang aku lihat, kalau masalah kehilangan ciri khas, aku merasa itu bagian dari proses, dan aku menikmatinya, mengikuti saja mau ke mana selera motretku. Sampai sekarang aku tidak/blum menemukan sesuatu atau mindset yang bisa diejawantahkan jadi ciri khas di fotoku…

Wid: Hmm, ok, lalu bagaimana dengan orang-orangnya sendiri di Papua sana, bisa ceritakan bagaimana umumnya reaksi mereka akan orang yang memotret di tempat umum?

AS: Beda-beda responnya sih, ada yang ramah dan senang, ada juga yang sampai memaki-maki… kalau di pedalaman lebih banyak yang marah, karena masih ada kepercayaan bahwa kalau orang di oto maka nyawanya akan hilang separuh.

Wid: Lalu biasanya bagaimana kamu menghadapi orang yang marah kalau difoto seperti itu? Pernah dapat masalah yang cukup serius berhubungan dengan itu?

AS: Ya minta maaf, terus dihapus fotonya. Itu dulu sih, waktu itu aku nggak tahu kalau orang sini kepercayaannya seperti itu, sehabis peristiwa itu sebelum motret aku tanya dulu sama orang-orang di situ, “kalau orang-orang di sini difoto bagaimana Pak? marah apa nggak?” Kalau nggak ya aku motret, kalau iya ya nggak jadi motret… kalau sampai jadi masalah besar sih nggak pernah.

Wid: Ok, kita coba beralih ke contoh kasus foto-fotomu sekarang. Punya foto yang menurutmu adalah foto terbaikmu sejauh ini? Bisa ceritakan keadaan pada saat itu, apa yang menarik perhatianmu untuk memotretnya? Dan kenapa kamu pikir ia foto yang berhasil?

arifsetiawan_1

AS: Foto ini diambil di pinggiran rel Sudirman kalau nggak salah, aku lihat si bapak lagi masak, nggak sengaja lihat tattoonya, kuperhatikan ada lambang swastika dan tulisan macho, swastika bagi banyak orang berarti Nazi. Aku pikir “NAZI, MACHO, MASAK” akan berhasil.. dan semua elemen itu ada di garis yg dibentuk oleh tangan bapak itu…

Wid: Bagaimana dengan yang ini? Aku selalu melihatnya seperti seorang ksatria dan tunggangannya yang tengah berwaspada dengan tamengnya, dan selalu ingin tahu cerita di baliknya….

3607445055_69ac87a580_o

AS: Itu banyak faktor keberuntungannya. Ini posisiku lagi di motor boat kecil yang melewati danau, terus aku lihat dia lagi mencuci panci, iseng saja bikin stock foto orang Papua dengan berbagai aktifitasnya, aku nggak mengharapkan dapatnya pas sikap dia seperti ini…

Wid: Itu dia memang bersikap ‘sembunyi’ di balik tutup panci, atau itu hanya gestur yang berlangsung sesaat saja?

AS: Sesaat saja, pas aku mengarahkan kamera dia nggak seperti ini seingatku. Aku baru tahu pas lihat hasilnya di kamera.

Wid: Soal pembelajaran sekarang. Ada cara spesifik yang kamu lakukan untuk mengembangkan fotografimu?

AS: Banyak melihat fotonya orang lain, dan nggak cuma yang sudah terkenal saja. Dan aku slealu bawa kamera digital ke mana saja, benar-benar ke mana saja, setiap keluar rumah selalu bawa. Dan di mana saja kalau lagi menganggur seringnya aku praktek metering dan focusing manual, mencoba berbagai jenis settingan cahaya dan kondisi, itu saja sepertinya yang kulakukan selama ini. Oh iya, kalau mau bertanya sama orang lain jangan malu-malu… kalau dijawab syukur, kalo nggak ya nggak apa-apa.

4019815300_cd374fc5bd_o

Wid: Omong-omong soal pembelajaran, salah satu kemudahan di jaman online seperti sekarang ini adalah kita bisa dengan mudah menunjukkan foto-foto kita lewat berbagai platform dan mendapatkan feedback dari orang yang melihatnya. Seperti yang kita tahu, genre street sampai saat ini hanya terlihat menarik untuk sebagian kecil kalangan peminat fotografi (walaupun belakangan ini aku melihat ada peningkatan animo). akibatnya lalu kita jadi tanpa disadari membentuk satu kelompok-kelompok kecil yang pada dasarnya saling menyukai karya satu sama lain. Ini lalu berimplikasi pada komentar-komentar yang diberikan, yang pada akhirnya juga sama seperti kebanyakan komentar yang diberikan orang di banyak foto-foto cantik pada umumnya… komentar yang generik dan tidak terlalu membangun. Bagaimana pandanganmu akan hal ini?

AS: Hmmm.. yang paling dasar adalah genre street ini definisi praktisnya banyak orang yang belum benar-benar paham (termasuk aku juga) Komentar generik (jika mau dipandang dari sudut yang baik) itu menurutku salah satu bentuk dukungan moril, setidaknya membangun kepercayaan diri untuk motret street (lagi) bagi sebagian orang… problemnya kebanyakan orang masih merasa nggak enak kalau harus mengkritik sesuatu yang bersifat subyektif. Itu bagian dari proses sih menurutku…

Wid: Tapi apakah pada jangka panjang nanti nggak berakibat pada hasil foto yg monoton? Maksudku… aku berpendapat kita pada dasarnya belajar dari kesalahan. sementara ketika 95% komentar yang masuk ke foto kita adalah komentar yang positif, sulit (setidaknya bagiku pribadi) untuk bisa belajar dari komentar itu karena toh foto apapun yg kita pajang, komentar yg masuk akan kurang lebih sama.

AS: Nah, kita tahu mana komentar yang bisa diterima sebagai bahan pembelajaran, dan mana yang tidak kan? Kalau kita nggak bisa belajar di komunitas A, mungkin di komunitas A itu orang belajar dari kamu, maka mereka nggak berani mengkritik.. mungkin akan beda jadinya di komunitas B, di situ mungkin kamu akan banyak belajar dari komentar orang.

3794645218_ddc15b45d4_o

Wid: Ada keinginan untuk membawa fotografi yang kamu lakukan ini ke tingkatan yg lebih tinggi (apapun itu)? Atau kamu cuma menganggapnya sebagai hobi?

AS: Kalau meningkatkan kemampuan, iya. Meningkatkan kualitas foto, iya. Tapi untuk mendapatkan sesuatu (apapun itu), nggak kepikir sampai sekarang. Sekarang cuma mau menunjukkan bahwa di Papua juga ada kehidupan, bukan cuma hutan-hutan, pantai-pantai indah, dan orang-orang telanjang.

Wid: Selain dari dunia fotografi, apa ada sumber inspirasi lain yang mempengaruhi foto-fotomu?

AS: Kehidupan lingkungan sekitar, sejak senang dengan snapshot/street aku juga lebih memperhatikan lingkungan sekitarku… jadi agak lebih peka dengan apa yg terjadi di sekitarku.

~

Foto-foto Arif Setiawan yang lain bisa dilihat di blog maupun Flickr-nya.

Share Button

11 Comments

  • wawancara yang menarik, mengingat nara sumber tinggal dilingkungan yang sama sekali berbeda dengan setting urban perkotaan selama ini yang menjadi patokan foto-foto street. setuju sekali dengan kata2 foto bagus bisa dibuat dimana saja, mas Arif salah satu orang yang telah bisa mewujudkan slogan ini dengan tetap menghasilkan karya terbaiknya dari ujung timur bumi Indonesia.

  • wawancara yg menarik… klo lihat photostream-nya di flickr, bener2 bisa menceritakan sisi lain dari Papua…
    jd makin pengen maen kesana… belum pernah soalnya… hiks…

  • saya senang sekali dengan adanya mas arief setiawan di sini dan berbagi lewat karya karyanya ,dan wawancara ini.. dokumentasi foto foto kehidupan di papua sangat unik dan membuat saya ingin tau disana seperti apa (karena tidak bisa kesana) mas arief juga selain manusianya juga menampilkan landscape2 dan sisi sisi kotanya juga..kesannya sepi ga kaya di jkt sini..dan rada mistis hehehe ..
    di tunggu foto2nya lagi unposed mas!

  • mantab sekali, ini semakin mengukuhkan kutipan
    “You can find pictures anywhere.” nya Elliott Erwitt

    jadi tak boleh ada lagi apologi atau justifikasi,
    “fotoku jelek karena aku di Jakarta yang semrawut, coba aku di Eropa sana…”
    karena ternyata orang dari tempat lain pun punya keinginan yang sama

    ;))

    mantab mas

  • wawancara yang sangat menarik, dan arif bisa membuktikan dan membuka mata orang lain tentang kehidupan di Papua.

    Thanks to Wid and Arif!

  • Thanks untuk bacaan yang menarik, sebagian pertanyaanmu wid seperti mengarahkan, yang dijawab iyah, ho’oh, anu-inu 🙂

    Buat Arif ternyata situasi di Papua banyak tantanganya ya, biasanya malah jadi semangat untuk lebih kreatif. Selalu ditunggu street-scene dari Papua..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *